Prinsip Anamnesa IMS

Melakukan anamnesa dan menggali faktor resiko yang mendasari terjadinya sebuah infeksi kelamin adalah sebuah hal yang gampang-gampang susah. Membutuhkan kejelian dalam menginterpretasikan setiap ucapan dan bahkan setiap bahasa tubuh dari pasien kita. Ada prinsip-prinsip yang harus kita jadikan dasar pada saat mulai melakukan anamnesa. Prinsip-prinsip ini agak sulit kalau hanya dipelajari secara teori. Membutuhkan pengalaman dan ketrampilan yang harus sering dilatih. Terkadang juga membutuhkan insting yang prima.

Pernah suatu ketika, saya kedatangan seorang pasien. Seorang perempuan yang berumur sekitar 55 tahun. Hebatnya ibu ini masih menjalankan profesi sebagai pekerja seks. Tempat mangkalnya di sekitar Stasiun Kiaracondong. Pangsa pasarnya bisa dibilang menengah ke bawah (tukang becak, supir angkot dan semua profesi minor lainnya). Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan adanya hampir semua infeksi menular seksual (IMS) pada organ reproduksi nya. Memang ibu ini jarang sekali menggunakan kondom, mengingat usianya yang sudah renta sehingga posisi tawar dia menjadi sangat rendah. Pada waktu itu rekomendasi obat IMS dari Depkes masih Siprofloksasin dengan Doksisiklin. Tapi saya sudah mulai berpikir untuk memberikan Azytromycin dan Cefixim. Sayangnya harga kedua obat yang terakhir ini agak mahal. Tentu saja saya harus menanyakan terlebih dahulu kemampuan ekonomi si ibu. Dari anamnesa didapatkan bahwa klien atau pelanggan si ibu ini dalam satu malam bisa lima sampai tujuh orang. Dengan sekali transaksi seks yang seharga 50ribu. Jadi saya berasumsi bahwa si ibu bisa mendapatkan penghasilan sekitar minimal 250ribu rupiah dalam satu malam. Kemudian saya tawarkan pilihan obat kepadanya. Si ibu tampak cukup tenang dengan banyaknya diagnosa yang disampaikan. Dia juga menyampaikan bahwa dia pengen sekali sembuh, kalau bisa diberikan obat yang terbaik. Kemudian saya tawarkan pilihan kedua obat tersebut dengan harga sekitar 70ribu (single dose). Karena obat tidak tersedia di klinik, si ibu saya tuliskan resep untuk ditebus di apotek. Namun pesan-pesan untuk tetap menggunakan kondom pada saat berhubungan seks saya sampaikan sebagai kunci kesembuhan baginya. Kemudian si ibu keluar dari ruangan praktek.

Tidak lama kemudian masuklah caretaker atau germo dari si ibu tadi. Sang caretaker meminta saya untuk dapat memberikan obat dengan harga yang semurah mungkin. Dia juga mengatakan bahwa alasan dia membawa ibu tadi ke tempat saya adalah agar saya dapat memberikan obat yang murah (atau gratis) dan terbukti kesembuhannya. Memang tempat praktek saya sudah dikenal memberikan pendekatan public health dengan harga yang sangat-sangat murah (bahkan gratis) bagi komunitas marjinal (pekerja seks, waria, gay, dan pecandu). Saya jelaskan bahwa membeli obat di apotek adalah pilihan dari si ibu. Namun sang caretaker balik menjelaskan bahwa sebenarnya pelanggan si ibu ini tidaklah banyak. Semalaman mangkal dengan mendapatkan satu pelanggan saja sudah bisa dibilang bagus. Seringnya tidak laku sama sekali. Sedangkan sekali transaksi bukanlah 50ribu seperti yang disampaikan sebelumnya, namun hanya 5ribu rupiah. Wowwww,… Mulut saya ternganga mendengarnya,…

Pada saat itu saya menjadi merasa sangat bersalah. Seharusnya saya bisa memahami lebih dalam mengenai perasaan orang-orang yang termarjinalkan. Tidak akan ada pekerja seks yang mengaku tidak laku. Juga tidak akan ada pekerja seks yang akan bilang bahwa dirinya “murah” atau “murahan”. Mereka masih mempunyai harga diri. Mereka masih punya pride. Itu satu hal yang seharusnya saya gunakan sebagai prinsip semenjak melakukan anamnesa awal.

Masih banyak lagi prinsip-prinsip diagnosa dan pengobatan IMS. Tetap stay tune di blog ini,…

Klik disini untuk cerita anamnesa IMS lainnya…

Apakah Anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *