Apakah Kita Tidak Akan Pernah Mensasar Strategi Pencegahan HIV Kepada Masyarakat Umum?

Minggu lalu saya baru saja bertemu dengan Walikota Pontianak. Kami mengobrol di ruang kerja beliau. Obrolan yang berlangsung santai dan cukup lama ini membicarakan berbagai macam isu, namun lebih banyak membahas tentang upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Pontianak. Ada satu statement beliau yang cukup membuat saya berpikir out of the box dari yang selama ini saya pikirkan. Beliau mengatakan bahwa saat ini sudah tidak pada tempatnya lagi jika kita menggunakan metode-metode kampanye dengan promosi yang sifatnya menghimbau. Menurut beliau sebaiknya jangan memasang slogan “Pakailah kondom jika beresiko” atau yang sejenisnya. Karena slogan tersebut terbukti tidak efektif dalam meningkatkan penggunaan kondom dalam setiap aktifitas seksual beresiko. Sebaiknya langsung saja agak ekstrim dengan menulis “Tidak bisa dijamim jika anda berhubungan seks dengan PSK tidak akan tertular HIV”. Menurut saya slogan tersebut tidak terlalu eskstrim. Bahkan di satu sisi saya sependapat dengan beliau.

Jika melihat usaha-usaha pencegahan HIV, memang selama ini terlihat hanya seperti himbauan-himbauan semata. Padahal pemodelan epidemi HIV dengan menggunakan Asian Epidemic Model (AEM) menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat kecenderungan peningkatan epidemi pada pelanggan pekerja seks. Juga terdapat banyak sekali peningkatan pada pasangan pelanggan pekerja seks atau istri-istri dari pria hidung belang. Namun usaha-usaha pencegahan ke arah sana nampaknya tidak banyak dilakukan. Selama ini usaha pencegahan hanya terfokus pada dua hal, yaitu pencegahan melalui transmisi seksual dengan menjadikan pekerja seks perempuan sebagai sasaran program, dan yang satunya lagi adalah pencegahan melalui penggunaan jarum suntik tidak steril dan bergantian dengan mensasar pada populasi pengguna napza suntik. Padahal kalau melihat AEM lagi, populasi pekerja seks perempuan memang mengalami peningkatan namun grafiknya cenderung flat. Sedangkan populasi pengguna napza suntik malah menunjukkan penurunan tren. Tidak ada strategi secara spesifik yang mensasar pelanggan pekerja seks.

Memang agak sulit mensasar pria-pria yang sering jajan. Banyak faktor yang menjadi barier terhadap hal ini. Kalau dikatakan membutuhkan sumber daya yang lebih sebetulnya juga tidak terlalu tepat. Saya lebih setuju jika dikatakan bahwa tidak ada parameter keberhasilan program yang bisa diukur dalam jangka pendek. Lho mengapa kita mesti pusing dengan tujuan jangka pendek? Hal ini membukikan bahwa sebenarnya upaya-upaya penanggulangan HIV masih mengandalkan bantuan luar. Lembaga asing setiap menjalankan sebuah program pasti akan melakukan penilaian keberhasilan program. Sementara tidak ada bantuan yang lebih dari 10 tahun. Sudah seharusnya program-program pemerintah yang didanai dengan uang rakyat mensasar kepada populasi yang sudah lama tidak tersentuh ini.

Namun para kapitalis pasti akan mengatakan tidak setuju dengan metode ini karena high cost – low impact. Jika kita selalu menggunakan pola pikir orang luar yang selalu hitung-hitungan dalam memberikan bantuan kepada kita maka wajarlah menggunakan pola pikir demikian. Masa kita memberikan bantuan kepada rakyat kita sendiri yang notabene untuk kemajuan rakyat dan menggunakan duit rakyat masih pakai hitung-hitungan untung rugi?

Opo tumon?

Apakah Anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *