Hari ini tidak biasa. Hari ini bukan sekadar Jumat yang penuh berkah, juga bukan Idul Adha yang datang saban tahun. Hari ini adalah keduanya, bertemu dalam satu ruang waktu yang sarat makna. Seperti dua gelombang spiritual yang bersatu, Jumat dan Idul Adha menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran kita sebagai manusia: makhluk sosial, spiritual, dan biologis.
Di berbagai pelosok negeri, gema takbir menggema sejak malam sebelumnya. Aroma khas bumbu gulai dan sate mulai menyeruak dari dapur-dapur rumah dan masjid. Di gang sempit dan jalan besar, orang-orang berbaris menunggu pembagian daging kurban. Ada yang membawa plastik, ada pula yang hanya menggenggam harapan. Sebuah pemandangan yang tak pernah gagal menyentuh hati, tahun demi tahun.
Namun di balik kemeriahan itu, ada hal yang sering luput dari perhatian: bagaimana kita, sebagai umat yang merayakan hari besar ini, juga memikul tanggung jawab terhadap kesehatan tubuh, kelestarian lingkungan, dan kepedulian pada mereka yang lebih rentan. Tulisan ini mengajak kita bukan untuk menjauhi tradisi, melainkan memaknainya dengan lebih dalam dan penuh kesadaran.
Daging Kurban: Antara Anugerah dan Tantangan Gizi
Daging kurban, baik kambing maupun sapi, adalah sumber nutrisi penting, baik itu protein hewani, zat besi, vitamin B12, dan zinc. Ini adalah anugerah luar biasa, terutama bagi mereka yang selama ini jarang menikmati gizi optimal. Bagi sebagian keluarga, ini bisa jadi satu-satunya momen setahun sekali mereka mencicipi daging.
Namun, anugerah ini bisa menjadi tantangan jika tak disertai pemahaman. Cara pengolahan yang berlebihan, bersantan, digoreng, penuh lemak, sering kali mengubah berkah menjadi risiko. Saya masih ingat seorang pasien lansia yang datang ke UGD dengan nyeri sendi hebat akibat kambuhnya asam urat, hanya dua hari setelah menyantap sate kambing tanpa henti. Maka di sinilah letak pelajarannya. Idul Adha bukan hanya tentang menikmati, tapi juga tentang menjaga. Agar daging kurban menjadi berkah, bukan bencana, kita perlu bijak dalam cara mengolah dan mengonsumsinya.
Nabi Mengajarkan Kita Makan dengan Bijak
Rasulullah SAW adalah contoh teladan dalam kesederhanaan. Makanan beliau bukanlah hidangan mewah, melainkan yang bergizi dan tidak berlebihan. Daging bukan makanan harian beliau, dan ketika ada, beliau menikmatinya secukupnya, dengan penuh syukur.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: “Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk dari perutnya…”, sebuah pelajaran sederhana namun penuh hikmah. Bahkan ilmu gizi modern kini menyuarakan hal yang sama: bahwa perut yang terlalu penuh justru membawa banyak masalah, dari gangguan pencernaan hingga risiko penyakit kronis.
Di tengah suasana Idul Adha yang penuh hidangan lezat, mari kita tanamkan kembali ajaran Rasulullah. Nikmati secukupnya, imbangi dengan sayur, buah, dan air putih. Karena menjaga tubuh bukan sekadar urusan dunia. Menjaga tubuh adalah bagian dari ibadah.
Saatnya Kita Berpikir tentang Siapa yang Tidak Kita Lihat
Di tengah perayaan, kita kerap lupa menoleh ke sisi yang lebih sunyi. Sementara sebagian dari kita berpesta dengan aneka olahan daging, ada mereka yang diam-diam menunggu—kadang dengan harapan yang nyaris padam.
Pernahkah kita berpikir: apakah distribusi daging kurban selama ini adil? Apakah sudah menyentuh mereka yang tinggal di sudut-sudut tak terlihat, lansia yang hidup sendiri, ODHIV yang tengah berjuang memperkuat tubuhnya, atau penderita Tuberkulosis yang sangat membutuhkan protein untuk pemulihan?
Di sebuah klinik komunitas, saya berbincang dengan seorang petugas layanan HIV. Ia mengatakan, “Daging kurban itu seperti vitamin tahunan bagi klien kami.” Sayangnya, distribusi belum menyasar kelompok ini secara sistematis. Ini bukan kesalahan siapa-siapa, tapi tanda bahwa kita butuh paradigma baru dalam memahami makna kurban. Kurban bukan hanya urusan antara manusia dan Tuhannya, tetapi juga antara manusia dan sesamanya.
Memaknai Kurban Sebagai Pengorbanan Diri
Apa arti kurban jika kita masih menutup mata terhadap ketimpangan? Apa maknanya jika kita membuang makanan berlebih, sementara di luar sana ada yang menanti sepotong daging untuk anaknya?
Kurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan. Ia adalah latihan spiritual. Ia mengajak kita untuk menyembelih keserakahan, membunuh ego, dan menundukkan hawa nafsu. Barangkali inilah saatnya kita juga “berkurban” dalam bentuk lain: menyisihkan waktu untuk membagikan daging, menahan diri untuk tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan, atau berbagi dengan mereka yang bahkan tak punya kupon antrean. Seperti Ibrahim yang siap melepas Ismail, kita pun diajak untuk melepaskan, bukan hanya milik, tapi juga rasa mementingkan diri.
Daging Kurban dan Lingkungan: Sebuah Renungan Tambahan
Ada sisi lain dari kurban yang juga patut direnungkan: dampaknya terhadap lingkungan. Kita tahu bahwa peternakan adalah salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, dan konsumsi daging yang tak terkendali dapat memperburuk krisis iklim.
Tentu, kurban bukan industri massal. Tapi semangat berkurban bisa kita selaraskan dengan kesadaran ekologis. Kita bisa mulai dari cara memasak: menghindari minyak berlebihan, mengolah jeroan dengan aman, dan tidak membuang bagian yang masih bisa dimanfaatkan. Bahkan menyimpan daging pun ada seninya, dipilah, dibagi, disimpan sesuai kebutuhan. Karena membuang daging kurban bukan hanya pemborosan, tapi bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang telah kita niatkan.
Menghidupkan Sunnah Jumat di Hari Raya
Ketika Jumat bertemu Idul Adha, maka keberkahan berlipat ganda. Hari ini adalah hari terbaik, dan momen terbaik. Sunnah-sunnah Jumat, seperti mandi, memakai pakaian terbaik, membaca Al-Kahfi, memperbanyak salawat—menjadi pelengkap yang indah bagi semangat kurban.
Bayangkan, setelah shalat Ied dan Jumat, kita tidak langsung pulang, tetapi ikut membantu panitia menimbang, mengemas, dan membagikan daging. Atau duduk sejenak membaca Al-Kahfi sembari merenungi perjuangan Nabi Ibrahim. Hari ini bukan hanya soal makan, tapi juga soal mengenang, merenung, dan menumbuhkan kepedulian.
Refleksi: Dari Perut ke Hati
Idul Adha bukan semata pesta daging. Ia adalah perjalanan batin. Dari perut yang kenyang, semoga lahir hati yang lapang. Dari dapur yang sibuk, semoga tumbuh tangan yang dermawan. Dari ibadah yang khusyuk, semoga muncul niat untuk menjadi manusia yang lebih sehat, lebih peduli, dan lebih sadar. Kurangi santan, tambah sayur. Kurangi bumbu, tambah syukur. Karena sejatinya, kurban terbesar bukan sapi atau kambing—tetapi diri kita sendiri.
Mari kita rayakan hari besar ini bukan hanya dengan masakan lezat, tapi dengan tekad yang bulat untuk menjadi manusia yang lebih seimbang: sehat raganya, terang jiwanya, dan lembut hatinya.
Discover more from drBagus.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.