AIDS Belum Selesai: Ketika Kemajuan Besar HIV Berhadapan dengan Krisis Pendanaan

AIDS Belum Selesai: Ketika Kemajuan Besar HIV Berhadapan dengan Krisis Pendanaan

Selama lebih dari tiga puluh tahun, dunia sudah bergerak cukup jauh dalam menghadapi HIV. Pada masa awal epidemi, diagnosis HIV sering dianggap seperti vonis karena pilihan pengobatan sangat terbatas dan banyak orang akhirnya jatuh sakit akibat AIDS. Situasinya sekarang jauh berbeda. Obat antiretroviral semakin efektif, lebih sederhana untuk digunakan, dan dapat menekan jumlah virus sampai tidak terdeteksi. Seseorang dengan HIV yang menjalani pengobatan dengan baik dapat hidup sehat seperti orang lain, dan ketika viral load tidak terdeteksi, HIV tidak ditularkan melalui hubungan seksual. Pengetahuan tentang pencegahan juga berkembang pesat, dari kondom, harm reduction, sampai pre-exposure prophylaxis atau PrEP yang sekarang tersedia dalam beberapa pilihan.

Dengan kemajuan sebesar itu, seharusnya perjalanan menuju berakhirnya AIDS terasa semakin mudah. Tetapi laporan UNAIDS yang diterbitkan saat International AIDS Conference ke-26 pada Juli 2026 justru memberi peringatan yang cukup serius. Dunia memang berhasil menurunkan infeksi dan kematian akibat HIV, tetapi kecepatannya belum cukup untuk mencapai target 2030. Kemajuan yang sudah dicapai ternyata sangat bergantung pada sistem pembiayaan, layanan, dan jaringan komunitas yang sekarang sedang mengalami tekanan. Kita sudah mempunyai banyak alat untuk mengendalikan HIV, tetapi belum tentu mampu mempertahankan semua alat tersebut agar tetap tersedia bagi mereka yang membutuhkan.

Angka global sebenarnya menunjukkan keberhasilan yang besar. Pada 2025 diperkirakan sekitar 41 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Pada tahun yang sama terjadi sekitar 1,2 juta infeksi baru dan 570.000 kematian yang berkaitan dengan AIDS. Bila dibandingkan dengan 2010, jumlah infeksi baru telah turun sekitar 42 persen, sedangkan kematian akibat AIDS turun sekitar 57 persen. Hampir lima juta infeksi HIV pada anak juga berhasil dicegah melalui program pencegahan penularan dari ibu ke anak sejak tahun 2000. Semua ini tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui kombinasi pengobatan, pencegahan, layanan kesehatan, dukungan komunitas, dan investasi internasional selama bertahun-tahun.

Namun angka tersebut juga bisa dibaca dari sisi yang berbeda. UNAIDS memperkirakan bahwa pada 2025 masih terjadi sekitar satu juta infeksi HIV baru dan 400.000 kematian terkait AIDS lebih banyak dibandingkan jumlah yang seharusnya terjadi apabila dunia benar-benar berada pada jalur mencapai target 2030. Dengan kata lain, masalahnya bukan karena tidak ada kemajuan, tetapi karena penurunannya terlalu lambat. Beberapa kawasan berhasil menekan epidemi dengan cepat, sementara kawasan lain bergerak jauh lebih pelan. Bahkan di sejumlah negara, jumlah infeksi baru masih meningkat. Karena itu, pernyataan bahwa epidemi HIV dunia sedang menurun memang benar, tetapi bisa menyesatkan bila kita berhenti pada angka global.

Pengobatan menjadi bagian yang paling berhasil dipertahankan. Pada akhir 2025, sekitar 32,1 juta orang dengan HIV menerima terapi antiretroviral. Secara global, sekitar 88 persen orang dengan HIV sudah mengetahui statusnya, 89 persen dari mereka yang mengetahui status sudah menjalani pengobatan, dan 95 persen dari mereka yang menerima pengobatan telah mencapai supresi virus. Angka itu menggembirakan karena menunjukkan bahwa setelah seseorang berhasil masuk ke dalam sistem pengobatan, peluang mencapai hasil yang baik sangat tinggi. Persoalannya terletak pada orang-orang yang belum pernah dites, sudah didiagnosis tetapi belum memulai terapi, atau pernah mendapatkan pengobatan kemudian terputus dari layanan.

Karena itu angka 95 persen viral suppression perlu dibaca dengan sedikit hati-hati. Angka tersebut adalah persentase di antara orang yang sudah menerima terapi, bukan seluruh orang yang hidup dengan HIV. Bila semua orang dengan HIV dihitung, sekitar 74 persen yang sudah memiliki viral load tertekan. Masih ada jutaan orang yang berada di luar keberhasilan itu. Mereka bukan angka kecil, sebab justru pada kelompok inilah penyakit lanjut, kematian, dan penularan masih dapat terjadi. Dalam program kesehatan masyarakat, bagian terakhir (last mile) untuk menjangkau orang yang belum terlayani sering kali justru merupakan bagian yang paling sulit.

Kesenjangan yang lebih jelas terlihat pada anak. Pada 2025, baru sekitar 55 persen anak yang hidup dengan HIV menerima pengobatan antiretroviral. Diperkirakan lebih dari 570.000 anak dengan HIV masih belum mendapatkan terapi. Anak hanya menyumbang sebagian kecil dari seluruh orang yang hidup dengan HIV, tetapi proporsi kematian terkait AIDS pada kelompok ini jauh lebih besar. Situasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi pengobatan yang baik belum otomatis menghasilkan akses yang merata. Ketika sebuah program terlihat berhasil secara nasional atau global, kita tetap perlu bertanya siapa yang masih tertinggal.

Pertanyaan itu menjadi lebih penting ketika pembiayaan HIV mulai berubah. Pada 2025, pendanaan eksternal untuk respons HIV di negara berpendapatan rendah dan menengah turun sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi cukup cepat dan memaksa banyak negara melakukan penyesuaian dalam waktu singkat. Pemerintah akhirnya harus menentukan layanan mana yang harus dilindungi terlebih dahulu ketika uang yang tersedia tidak lagi sebanyak sebelumnya. Pilihan pertama tentu saja pengobatan karena ARV tidak boleh terputus. Seorang pasien tidak bisa diminta berhenti minum obat selama beberapa bulan hanya karena tahun anggaran sedang sulit.

Keputusan melindungi pengobatan sangat masuk akal, tetapi ada konsekuensi yang perlu diperhatikan. Ketika treatment dilindungi, kegiatan prevention sering menjadi bagian yang lebih mudah dikurangi. Tidak ada kejadian yang langsung terlihat ketika kegiatan outreach dibatalkan atau distribusi kondom dikurangi. Tidak ada pasien yang tiba-tiba masuk rumah sakit pada hari ketika sebuah program PrEP dihentikan. Dampaknya baru terlihat beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian ketika orang yang sebenarnya dapat dicegah dari HIV akhirnya memperoleh infeksi. Prevention mempunyai kelemahan dari sudut pandang politik anggaran, keberhasilannya justru sering terlihat melalui sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Itulah sebabnya data pembiayaan prevention dalam laporan UNAIDS patut mendapat perhatian. Pada 2024, program pencegahan hanya menyerap sekitar 11 persen dari keseluruhan pembiayaan HIV di negara berpendapatan rendah dan menengah. Sekitar dua pertiga pembiayaan prevention tersebut berasal dari sumber eksternal. Artinya, ketika donor mengurangi dukungan, prevention berada pada posisi yang sangat rentan. Di beberapa negara, jumlah orang yang menerima PrEP setidaknya sekali dalam setahun turun lebih dari 50 persen antara 2024 dan 2025. Dalam salah satu program donor bilateral, testing HIV turun sekitar 22 persen, pembiayaan kondom turun 93 persen, dan dana untuk menciptakan lingkungan kebijakan yang mendukung akses layanan turun sekitar 80 persen.

Ini bukan berarti semua negara mengalami kegagalan yang sama. Ethiopia dan Uganda justru berhasil memperluas akses PrEP dengan menggunakan pembiayaan domestik dan sumber lain. Brasil meningkatkan jumlah orang yang menerima PrEP dari sekitar 165.000 menjadi 233.000 dalam setahun. Afrika Selatan mengalami penurunan dukungan internasional untuk PrEP, tetapi dapat membatasi penurunan jumlah pengguna menjadi sekitar delapan persen. Perbedaan itu memberi pelajaran penting tentang arti keberlanjutan. Program yang kuat bukan hanya program yang memiliki uang hari ini, tetapi program yang tetap dapat berjalan ketika sumber uangnya berubah.

Bagi Asia dan Pasifik, persoalan prevention bahkan lebih penting karena karakter epidemi di kawasan ini tidak sama dengan Afrika sub-Sahara. Antara 2010 dan 2025, jumlah infeksi baru di Asia dan Pasifik turun sekitar 21 persen. Angka ini tentu merupakan kemajuan, tetapi jauh lebih lambat dibandingkan penurunan sekitar 62 persen di Afrika bagian timur dan selatan. Beberapa negara di Asia masih mengalami peningkatan infeksi baru, dan Filipina termasuk negara dengan peningkatan lebih dari 20 persen dibandingkan 2010. Jadi kita tidak bisa sekadar mengambil cerita keberhasilan global lalu menganggap bahwa semua kawasan sedang menuju arah yang sama.

Di luar Afrika sub-Sahara, sebagian besar infeksi HIV baru terjadi pada populasi kunci dan pasangan seksual mereka. Gay men dan laki-laki lain yang berhubungan seksual dengan laki-laki menyumbang bagian besar dari infeksi tersebut. Risiko memperoleh HIV juga jauh lebih tinggi pada orang yang menggunakan napza suntik, pekerja seks, transgender, serta gay men dan laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki dibandingkan populasi dewasa secara umum. Fakta ini penting karena menentukan bagaimana program harus bekerja. Bila epidemi terkonsentrasi pada kelompok tertentu, menyediakan layanan di fasilitas kesehatan saja tidak cukup.

Puskesmas dapat mempunyai tes HIV, kondom, PrEP, dan ARV, tetapi keberadaan layanan belum tentu berarti orang akan menggunakannya. Seorang transgender yang pernah diperlakukan buruk di fasilitas kesehatan mungkin memilih tidak datang lagi. Pekerja seks mungkin khawatir identitas atau pekerjaannya diketahui. Seseorang yang menggunakan napza mungkin merasa lebih aman berbicara dengan petugas lapangan yang memang berasal dari komunitasnya. Ada pula orang yang tidak merasa berisiko sehingga tidak pernah berpikir untuk melakukan tes. Jarak menuju layanan HIV, dengan demikian, tidak selalu dihitung dalam kilometer.

Ada jarak yang dibentuk oleh stigma, rasa takut, pengalaman buruk, biaya, jam pelayanan, sampai aturan yang membuat seseorang merasa tidak aman. Karena itu, komunitas mempunyai peran yang tidak mudah digantikan oleh fasilitas kesehatan formal. Selama bertahun-tahun organisasi komunitas membantu menemukan orang yang tidak terjangkau sistem, membawa mereka melakukan tes, menghubungkan orang yang positif HIV dengan pengobatan, mendampingi penggunaan PrEP, dan mencari kembali orang yang berhenti datang mengambil obat. Di beberapa tempat, organisasi semacam ini juga menyediakan layanan langsung. Bagi sebagian orang, komunitas bukan pelengkap program HIV, tetapi pintu pertama mereka menuju layanan kesehatan.

Sayangnya bagian inilah yang termasuk paling rapuh ketika pendanaan internasional berkurang. Sebuah studi pada 2026 yang melibatkan 79 organisasi community-led di 47 negara menemukan penurunan sekitar 50 persen dalam penyediaan PrEP dan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV. Layanan bagi gay men dan laki-laki lain yang berhubungan seksual dengan laki-laki turun sekitar 85 persen, sedangkan layanan bagi pekerja seks turun sekitar 82 persen. Dalam data pembiayaan dari 12 negara yang dianalisis UNAIDS, organisasi community-led hampir sepenuhnya bergantung pada sumber internasional. Ketika donor mengurangi dukungan, yang hilang bukan hanya proyek di atas kertas, tetapi orang, jaringan, pengetahuan, dan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Di sinilah social contracting menjadi menarik untuk dibicarakan. Istilahnya terdengar teknis, padahal gagasannya cukup sederhana. Pemerintah menggunakan anggaran domestik untuk membayar organisasi masyarakat sipil atau organisasi komunitas agar memberikan layanan tertentu yang memang lebih efektif bila dilakukan oleh mereka. Pemerintah tidak kehilangan kendali karena tujuan, standar layanan, target, dan pertanggungjawaban tetap dapat diatur melalui kontrak. Yang berubah hanyalah pengakuan bahwa tidak semua pelayanan harus diberikan langsung oleh institusi pemerintah.

Pendekatan seperti ini sangat masuk akal dalam HIV. Tidak ada alasan memaksa puskesmas melakukan semua jenis outreach jika organisasi komunitas mempunyai akses yang jauh lebih baik kepada kelompok tertentu. Sebaliknya, organisasi komunitas juga tidak perlu mengambil alih fungsi klinis yang memang lebih tepat dilakukan fasilitas kesehatan. Keduanya dapat bekerja pada bagian yang paling sesuai dengan kekuatan masing-masing. Masalahnya, mekanisme semacam ini belum tersedia secara luas. Dari 106 negara dengan data yang tersedia, baru 62 yang memiliki hukum atau kebijakan yang memungkinkan pembiayaan domestik untuk layanan yang diberikan komunitas, sedangkan di Asia dan Pasifik proporsinya sekitar 35 persen.

Bagi negara yang mulai menghadapi pengurangan donor, membangun mekanisme seperti ini seharusnya menjadi bagian dari strategi transisi. Jangan menunggu sampai dana donor benar-benar berhenti, kemudian baru bertanya siapa yang akan membiayai outreach, pendampingan pasien, atau layanan bagi populasi kunci. Pada saat itu, organisasinya mungkin sudah tutup dan staf yang berpengalaman sudah bekerja di tempat lain. Jaringan yang putus juga tidak selalu mudah dibangun kembali. Transisi yang baik seharusnya berlangsung bertahap, dengan memindahkan bukan hanya pembiayaan tetapi juga fungsi penting dari respons HIV ke dalam sistem domestik.

Menariknya, perubahan pembiayaan ini terjadi ketika teknologi prevention justru berkembang sangat cepat. Salah satu yang banyak mendapat perhatian adalah lenacapavir sebagai PrEP suntik yang diberikan dua kali dalam setahun. Pada akhir Juni 2026, lebih dari 50.000 orang di sembilan negara Afrika sub-Sahara telah menerima lenacapavir untuk prevention. Melalui kerja sama sejumlah lembaga global, harga untuk negara berpendapatan lebih rendah diharapkan dapat mencapai sekitar US$40 per orang per tahun mulai 2027. Dari sisi medis dan kesehatan masyarakat, pilihan semacam ini membuka peluang yang sebelumnya sulit dibayangkan.

PrEP harian sangat efektif, tetapi tidak semua orang nyaman minum tablet setiap hari. Ada yang sering lupa, sering bepergian, tidak ingin keluarga menemukan obatnya, atau sekadar merasa metode harian tidak cocok dengan kehidupannya. Pilihan yang hanya membutuhkan dua kunjungan dalam setahun dapat mengurangi sebagian hambatan tersebut. Namun kita juga perlu berhati-hati agar tidak menganggap obat baru sebagai jalan pintas mengatasi seluruh masalah prevention. Produk yang sangat efektif dalam penelitian belum tentu otomatis memberikan dampak besar ketika digunakan sebagai program nasional.

Setelah kita tahu bahwa obat LEN terbukti bekerja, masih ada perjalanan panjang sebelum seseorang benar-benar menerima manfaatnya. Obat harus mendapat izin regulator, harga harus dapat dijangkau, anggaran harus tersedia, pengadaan harus berjalan, distribusi harus sampai ke fasilitas, dan tenaga kesehatan harus siap menggunakannya. Masyarakat juga perlu tahu bahwa pilihan tersebut tersedia dan memahami siapa yang dapat memperoleh manfaat darinya. Setelah dosis pertama, sistem harus memastikan seseorang kembali untuk dosis berikutnya. Bila rangkaian itu tidak berjalan, efektivitas yang sangat tinggi dalam uji klinis hanya akan menjadi angka bagus dalam jurnal.

Persoalan HIV sebenarnya semakin sedikit mendiskusikan tentang kekurangan ilmu pengetahuan dan semakin banyak mendiskusikan tentang kekuatan sistem, terutama sistem kesehatan. UNAIDS memperkirakan sekitar US$17,6 miliar tersedia untuk respons HIV di negara berpendapatan rendah dan menengah pada 2025. Padahal kebutuhan pada 2030 diperkirakan mencapai sekitar US$21,9 miliar setiap tahun. Selisih lebih dari empat miliar dolar tersebut cukup besar, apalagi terjadi pada saat banyak negara juga menghadapi tekanan hutang, kebutuhan pembangunan, wabah penyakit lain, dan berbagai prioritas kesehatan masyarakat. Mengharapkan donor kembali membiayai semuanya seperti sebelumnya juga tidak realistis.

Karena itu, peningkatan pembiayaan domestik memang harus menjadi bagian dari jawabannya. Tetapi pembiayaan domestik jangan diterjemahkan hanya sebagai pemerintah membeli lebih banyak ARV dan reagen laboratorium. Obat dan pemeriksaan tentu harus dilindungi, tetapi sebuah program HIV terdiri dari jauh lebih banyak hal. Ada kegiatan menemukan kasus, outreach, linkage ke pengobatan, pendampingan pasien, prevention, monitoring, pelatihan tenaga kesehatan, sistem informasi, logistik, dan berbagai kegiatan komunitas. Semua fungsi itu perlu dipetakan satu per satu untuk menentukan siapa yang akan menjalankan dan siapa yang akan membayar setelah donor berkurang.

Indonesia perlu mulai melihat transisi dengan cara seperti itu. Pertanyaan paling penting bukan sekadar berapa besar dana donor yang akan hilang atau berapa banyak pemerintah harus menambah anggaran. Pertanyaan yang lebih berguna adalah fungsi apa yang selama ini dibiayai donor tetapi sebenarnya tidak boleh berhenti. ARV tentu termasuk di dalamnya, begitu pula pemeriksaan viral load, diagnosis HIV, layanan advanced HIV disease dan pengobatan infeksi oportunistik. Namun prevention, pendampingan pasien, dan kegiatan komunitas juga perlu ditempatkan dalam pembicaraan yang sama karena kehilangan fungsi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan pengobatan pada masa depan.

Integrasi layanan ke sistem kesehatan nasional juga perlu dilakukan, tetapi jangan terlalu cepat menyamakan integrasi dengan keberlanjutan. Memindahkan sebuah kegiatan dari program vertikal HIV ke pelayanan kesehatan primer tidak otomatis membuatnya lebih baik. Integrasi baru berhasil jika orang tetap mudah memperoleh layanan, kualitas tidak turun, kerahasiaan terjaga, dan kelompok yang sebelumnya dilayani tetap datang. Bila setelah integrasi jumlah orang yang mengakses layanan justru menurun, kita harus berani mengatakan bahwa integrasinya tidak bekerja. Ukuran keberhasilannya bukan perubahan struktur organisasi, tetapi apakah masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih baik.

Hal yang sama berlaku untuk stigma dan diskriminasi. Dalam data dari 34 negara, rata-rata tertimbang sekitar 39 persen orang dewasa masih menunjukkan sikap diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV. Kriminalisasi terhadap kelompok tertentu juga tetap ditemukan di banyak negara dan dapat membuat orang enggan mencari layanan. Kita dapat membuka klinik sebanyak mungkin, tetapi layanan tidak akan banyak berarti jika orang takut masuk ke dalamnya. Karena itu investasi untuk mengurangi stigma, menjaga kerahasiaan, dan membuat pelayanan lebih ramah sebenarnya bukan kegiatan tambahan di luar program HIV, melainkan bagian dari upaya meningkatkan testing, prevention, treatment, dan viral suppression.

Political Declaration on HIV and AIDS yang disepakati pada Juni 2026 mencoba menangkap persoalan ini dalam target sampai 2030. Dunia tetap mengejar 95-95-95, menargetkan sekitar 40 juta orang dengan HIV menerima terapi dan 38 juta mencapai supresi virus. Sebanyak 20 juta orang ditargetkan menggunakan prevention berbasis antiretroviral, sementara 90 persen orang yang membutuhkan pencegahan diharapkan dapat menggunakan pilihan yang efektif seperti PrEP, PEP, kondom, atau harm reduction. Pada saat yang sama, deklarasi juga memberi tempat besar pada community-led services, pengurangan stigma, kesetaraan gender, dan lingkungan hukum yang lebih mendukung. Ini penting karena pengalaman beberapa dekade menunjukkan bahwa obat saja tidak pernah cukup untuk mengakhiri epidemi.

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu menjadi pegangan memasuki beberapa tahun terakhir menuju 2030.

Pertama, pengobatan harus tetap dijaga tanpa mengorbankan prevention. Menghemat biaya dengan mengurangi prevention mungkin membantu menutup anggaran tahun ini, tetapi dapat menciptakan biaya yang jauh lebih besar pada tahun-tahun berikutnya ketika infeksi baru bertambah.

Kedua, pemerintah perlu mulai membiayai fungsi yang memang terbukti penting, bukan hanya komoditas yang mudah terlihat dalam anggaran. Community outreach, pendampingan, social contracting, dan layanan bagi populasi kunci perlu mempunyai jalur pembiayaan yang jelas.

Ketiga, teknologi baru seperti long-acting PrEP harus diperkenalkan dengan perhitungan program, bukan sekadar semangat memiliki obat terbaru. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah produk tersebut efektif, tetapi siapa yang paling membutuhkan, bagaimana mereka akan dijangkau, berapa biaya setiap infeksi yang dapat dicegah, dan bagaimana pembiayaannya dipertahankan setelah program percontohan selesai.

Keempat, integrasi ke dalam sistem kesehatan harus disertai pengukuran hasil yang jujur. Coverage, retention, viral suppression, prevention uptake, kualitas, dan pengalaman pasien jauh lebih penting daripada sekadar menyatakan sebuah program sudah terintegrasi.

Dan terakhir, kita perlu berhenti melihat komunitas sebagai bagian yang bisa diadakan ketika dana cukup dan dipangkas ketika anggaran sulit. Selama epidemi HIV masih terkonsentrasi pada orang yang sering berada di luar jangkauan pelayanan formal, komunitas mempunyai fungsi yang sangat nyata. Pemerintah tidak harus melakukan semuanya sendiri, tetapi pemerintah perlu memastikan semua fungsi penting tetap berjalan. Social contracting merupakan salah satu pilihan, tetapi mekanismenya harus dibuat sederhana, transparan, dan memungkinkan organisasi yang benar-benar bekerja di lapangan mendapat akses. Yang perlu dipertahankan bukan nama proyeknya, melainkan fungsi yang membuat orang dapat menerima pelayanan.

Tahun 2030 sudah sangat dekat. Kita tidak lagi berada pada zaman ketika tantangan utama HIV adalah menemukan obat yang dapat membuat seseorang bertahan hidup. Obatnya ada, metode pencegahannya ada, tesnya ada, dan ilmu tentang bagaimana mengendalikan epidemi semakin baik. Tantangan sekarang jauh lebih membumi, memastikan semua itu tersedia di tempat yang tepat, digunakan oleh orang yang membutuhkan, dan tetap dibiayai ketika dukungan internasional mulai berkurang. Dalam banyak hal, beberapa tahun terakhir menuju 2030 justru akan menguji bukan kecanggihan ilmu HIV, tetapi kemampuan kita mengelola sistem kesehatan.

Mungkin itulah pesan paling penting dari laporan UNAIDS tahun ini. Dunia belum kekurangan pengetahuan tentang bagaimana HIV dapat dicegah dan diobati. Yang terancam justru sistem yang membawa pengetahuan tersebut kepada orang yang membutuhkannya. Bila treatment tetap tersedia tetapi prevention melemah, infeksi baru akan terus muncul. Bila fasilitas tersedia tetapi komunitas kehilangan kemampuan menjangkau orang, sebagian masyarakat tetap akan berada di luar layanan.

Alasannya sekarang berbeda dibandingkan tiga puluh tahun lalu. Kita sudah mempunyai jauh lebih banyak jawaban dari sisi medis, sementara pekerjaan yang tersisa semakin banyak berada pada pilihan kebijakan, pembiayaan, dan keberanian menentukan apa yang benar-benar harus dipertahankan. Indonesia juga akan menghadapi pertanyaan yang sama ketika dukungan donor semakin berkurang. Bukan hanya berapa banyak uang yang dapat kita gantikan, tetapi apakah sistem yang kita bangun cukup kuat untuk memastikan orang tetap terlindungi setelah uang donor itu tidak lagi ada.

Dan mungkin ukuran keberhasilan paling sederhana adalah ini. Orang dengan HIV tetap mendapatkan pengobatan tanpa terputus, orang yang membutuhkan prevention dapat memilih cara yang sesuai dengan kehidupannya, mereka yang berisiko tidak takut datang mencari layanan, dan komunitas yang selama ini menjangkau mereka tidak hilang hanya karena sumber pembiayaan berubah. Bila itu dapat dipertahankan, target mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat bukan sesuatu yang mustahil. Tetapi kalau prevention, komunitas, dan akses justru melemah pada saat pengobatan semakin baik, kita bisa memiliki obat terbaik dalam sejarah HIV sekaligus kehilangan kesempatan terbaik untuk benar-benar mengakhiri epideminya.

Sumber utama: UNAIDS, Special Report for the 26th International AIDS Conference: United to End AIDS, Juli 2026.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply