Dalam pelayanan HIV modern, salah satu konsep yang semakin banyak dibicarakan adalah multi-month dispensing atau MMD. Konsep ini pada dasarnya sederhana. Pasien yang sudah stabil secara klinis tidak perlu lagi datang setiap bulan ke fasilitas kesehatan untuk mengambil obat antiretroviral (ARV). Sebaliknya, obat dapat diberikan untuk beberapa bulan sekaligus dalam satu kunjungan. Di banyak negara, pasien bahkan dapat menerima obat untuk tiga hingga enam bulan sekaligus.
Ide ini muncul dari perubahan cara pandang terhadap layanan HIV. Dahulu, pasien harus datang setiap bulan ke klinik. Tujuannya untuk memantau kepatuhan terapi dan memastikan tidak ada efek samping obat. Namun pengalaman dari banyak negara menunjukkan bahwa kunjungan yang terlalu sering justru menjadi hambatan bagi pasien. Jarak fasilitas kesehatan, biaya transportasi, stigma sosial, serta waktu yang hilang dari pekerjaan sering kali membuat pasien kesulitan mempertahankan kunjungan rutin. Dalam konteks inilah MMD mulai dipromosikan sebagai solusi yang lebih realistis.
Dari Kunjungan Bulanan ke Layanan yang Lebih Fleksibel
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memasukkan MMD sebagai bagian dari pendekatan differentiated service delivery. Pendekatan ini berangkat dari gagasan sederhana bahwa tidak semua pasien membutuhkan layanan yang sama. Pasien yang baru memulai terapi tentu memerlukan pemantauan lebih intensif. Namun bagi pasien yang sudah stabil, yang viral load-nya sudah tidak terdeteksi dan kepatuhannya baik, kunjungan bulanan sering kali tidak lagi memberikan manfaat klinis yang signifikan.
Karena itu WHO merekomendasikan agar pasien stabil dapat menerima obat untuk tiga hingga enam bulan sekaligus. Pedoman ini dapat dilihat dalam dokumen resmi WHO berikut: WHO Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring. Dalam pedoman tersebut WHO menyatakan bahwa pasien stabil dapat menerima multi-month dispensing hingga 3–6 bulan, sementara konsultasi klinis tidak selalu harus dilakukan pada setiap pengambilan obat.
Pendekatan ini bukan hanya soal kenyamanan pasien. Dalam sistem kesehatan yang menghadapi beban tinggi seperti HIV, TB, dan penyakit kronis lainnya, frekuensi kunjungan yang tinggi juga membebani fasilitas kesehatan. Klinik HIV di banyak negara berkembang menghadapi jumlah pasien yang terus meningkat, sementara jumlah tenaga kesehatan tidak bertambah secara proporsional. Dengan mengurangi kunjungan yang tidak perlu, tenaga kesehatan dapat lebih fokus pada pasien yang membutuhkan perhatian klinis lebih intensif.
Implementasi Multi-Month Dispensing di Indonesia
Indonesia sebenarnya sudah mulai mengadopsi pendekatan ini. Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan pedoman khusus mengenai multi-month dispensing dalam layanan HIV. Dalam praktiknya, banyak fasilitas kesehatan sudah memberikan ARV untuk tiga atau enam bulan sekaligus kepada pasien yang stabil. Kebijakan ini sejalan dengan upaya memperkuat retensi pasien dalam pengobatan.
Dokumen panduan yang digunakan di Indonesia dapat dilihat pada tautan berikut: Petunjuk Teknis Multi-Month Dispensing (MMD) untuk HIV – Kementerian Kesehatan RI. Pedoman ini menjelaskan bahwa pemberian ARV untuk beberapa bulan sekaligus merupakan bagian dari pendekatan layanan HIV yang lebih berpusat pada pasien. Pasien yang stabil secara klinis dapat menerima obat untuk beberapa bulan sekaligus, dengan tetap mempertimbangkan kondisi klinis, ketersediaan obat, serta sistem monitoring yang ada.
Di banyak fasilitas kesehatan di Indonesia, praktik yang paling umum saat ini adalah pemberian obat untuk tiga bulan. Dalam kondisi tertentu, pemberian obat hingga enam bulan juga dimungkinkan, misalnya untuk pasien yang bekerja jauh dari fasilitas kesehatan atau memiliki keterbatasan akses layanan.
Mengapa Masih Ada Kekhawatiran di Kalangan Dokter?
Walaupun kebijakan ini sudah mulai diterapkan, di lapangan masih muncul perdebatan. Sebagian dokter berpendapat bahwa pemberian obat untuk enam bulan sekaligus sulit diterapkan secara luas. Alasan yang sering dikemukakan adalah kekhawatiran bahwa pasien akan melewatkan beberapa kunjungan sehingga dokter tidak dapat memantau kepatuhan terapi secara langsung.
Jika pasien menerima obat untuk enam bulan, maka berarti ada beberapa kunjungan yang tidak terjadi. Dalam perspektif klinis tradisional, kondisi ini dianggap berisiko karena dokter kehilangan kesempatan untuk mengevaluasi kepatuhan pasien secara rutin.
Pandangan ini sebenarnya mencerminkan cara pandang lama dalam pengelolaan penyakit kronis. Selama bertahun-tahun, kunjungan rutin dianggap sebagai cara utama untuk memastikan pasien meminum obat dengan benar. Dokter melakukan konseling, memeriksa kondisi pasien, dan menilai apakah terapi berjalan dengan baik.
Perubahan Paradigma dalam Monitoring Terapi HIV
Namun pengalaman global menunjukkan bahwa hubungan antara frekuensi kunjungan dan kepatuhan terapi tidak selalu linier. Banyak penelitian menemukan bahwa pasien yang harus datang terlalu sering justru lebih mudah kehilangan motivasi untuk melanjutkan terapi. Hambatan logistik seperti biaya transportasi, waktu perjalanan, atau kesulitan meninggalkan pekerjaan dapat menyebabkan pasien akhirnya berhenti datang ke klinik.
Selain itu, indikator keberhasilan terapi HIV kini lebih banyak bergantung pada pemeriksaan viral load. Jika viral load tidak terdeteksi, maka terapi dianggap berhasil dan kepatuhan pasien dapat diasumsikan baik. Dengan kata lain, keberhasilan terapi tidak lagi semata-mata ditentukan oleh seberapa sering pasien bertemu dokter.
Pendekatan modern juga menekankan bahwa pemantauan pasien tidak harus selalu dilakukan oleh dokter. Dalam banyak negara, layanan HIV melibatkan berbagai aktor lain seperti perawat, konselor, apoteker, dan komunitas pasien. Kelompok dukungan sebaya bahkan sering memainkan peran penting dalam memastikan pasien tetap mengonsumsi obat secara teratur.
Tantangan Implementasi di Sistem Kesehatan
Di Indonesia sendiri, implementasi MMD memang masih berkembang secara bertahap. Banyak fasilitas kesehatan masih menerapkan pemberian obat untuk tiga bulan sebagai standar. Pendekatan bertahap ini sering dipilih untuk menjaga keseimbangan antara inovasi layanan dan kesiapan sistem kesehatan.
Selain pertimbangan klinis, ada juga faktor logistik yang mempengaruhi implementasi kebijakan ini. Memberikan obat untuk enam bulan sekaligus berarti fasilitas kesehatan harus memiliki stok ARV yang cukup besar. Jika sistem distribusi obat belum sepenuhnya stabil, ada kekhawatiran bahwa pemberian obat dalam jumlah besar kepada sebagian pasien dapat meningkatkan risiko kekurangan stok bagi pasien lain.
Dalam konteks ini, keputusan mengenai durasi multi-month dispensing sering kali tidak hanya didasarkan pada pertimbangan klinis, tetapi juga pada manajemen rantai pasok obat.
Layanan HIV yang Lebih Berpusat pada Pasien
Perdebatan mengenai MMD sebenarnya mencerminkan proses adaptasi sistem kesehatan terhadap paradigma baru dalam pelayanan HIV. Transformasi layanan tidak pernah terjadi secara instan. Setiap negara memiliki konteks epidemiologi, kapasitas sistem kesehatan, serta budaya klinis yang berbeda.
Yang paling penting adalah memastikan bahwa setiap inovasi layanan tetap berorientasi pada tujuan utama, yaitu memastikan orang yang hidup dengan HIV dapat menjalani terapi secara konsisten dan mencapai viral suppression.
Jika layanan kesehatan mampu menjadi lebih fleksibel dan lebih memahami realitas kehidupan pasien, maka peluang untuk mempertahankan terapi jangka panjang akan semakin besar. Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian HIV tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan obat yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan sistem kesehatan untuk merancang layanan yang benar-benar berpihak pada pasien.


MMD bisa dilaksanakan ketika logistiknya tecukupi stoknya di daerah, sementara di Kalimantan stok logistik (obat) ketersediaannya kadang cuma tersedia hanya untuk 1 (satu) bulan saja, bahkan untuk satu bulan saja tidak tercukupi. hal ini akan sangat membingungan teman-teman yang ada di Fasyankes yang melayani pemberian obat HIV, hal tersebut sudah kita konsultasikan secara berjenjang ke Dinkes Provinsi tapi sampai saat ini pendistribusian logistik tetap dibawah kata tercukupi. Harapan kami ini menjadi perhatian khusus teman-teman pengelola program diatas (Pusat) untuk memberikan solusi dan kebijakan terhadap masalah kesehatan di daerah.Terimakasih Dokter semoga Penanganan masalah Kesehatan di Negara kita ada solusinya
Terima kasih banyak Pak Sofyan Toni atas masukannya. Apa yang Bapak sampaikan sangat penting dan memang menjadi realitas di beberapa daerah.
Secara konsep, multi-month dispensing memang hanya dapat berjalan baik jika ketersediaan logistik ARV stabil. Jika stok obat di fasilitas kesehatan hanya cukup untuk satu bulan, tentu tenaga kesehatan di lapangan akan berada dalam posisi yang sulit. Dalam situasi seperti itu, prioritas utama memang memastikan kontinuitas terapi pasien terlebih dahulu, sebelum mempertimbangkan pemberian obat untuk beberapa bulan sekaligus.
Dalam pedoman MMD sendiri sebenarnya disebutkan bahwa implementasinya sangat bergantung pada kesiapan rantai pasok obat. Artinya, MMD bukan kewajiban yang harus diterapkan di semua tempat secara seragam, tetapi dapat disesuaikan dengan kondisi logistik di masing-masing daerah.
Masukan seperti yang Bapak sampaikan sangat penting karena menunjukkan bahwa penguatan sistem logistik ARV masih menjadi pekerjaan rumah bersama, mulai dari perencanaan kebutuhan, distribusi, hingga buffer stock di daerah. Pengalaman dari teman-teman di Kalimantan tentu menjadi pengingat bahwa kebijakan layanan HIV tidak bisa dilepaskan dari kesiapan sistem distribusi obat.
Terima kasih sekali lagi sudah berbagi pengalaman dari lapangan. Semoga ke depan koordinasi antara fasilitas kesehatan, dinas kesehatan, dan pengelola program di tingkat pusat dapat semakin memperkuat sistem logistik sehingga layanan bagi ODHIV dapat berjalan lebih stabil.
Post yg bisa meng-inisiasi diskusi & perdebatan👍🏾: dr pengalaman berbagai negara, bahkan di setting yg terbatas, sangat memungkinkan utk dispensing dlm waktu yg lebih lama. Spt di Afrika selatan, krn prevalence HiV yg lmyn tinggi jg SDM terbatas. Bahkan di level perawat pun bs dilatih utk memonitor, tanpa pasien hrs jauh2 ke faskes spt RS besar. Tantangannya, apakah dr level KemKes bersedia utk mengambil pilihan tsb? Krn pasti ada kepentingan politis dllsb, terutama dr ikatan dr spesialis 🥲. Sy pun dokter & praktisi public health, tp sy pikir masi bnyk PR di bidang HIV (atau mslh kesehatan pd umumnya) di Indonesia, simply krn pemerintah tdk pny road map yg jelas.
Masalah stunting pun akhirnya solusinya hny jd proyek MBGJ (makan bersama ga jelas😁). Salam dr Jenewa
Terima kasih banyak dr Oktavia atas refleksi dan perspektifnya dari pengalaman global. Apa yang dokter sampaikan memang sangat relevan. Banyak negara dengan beban HIV tinggi dan sumber daya terbatas justru menjadi pionir dalam penerapan multi-month dispensing dan differentiated service delivery. Afrika Selatan, Zambia, dan Malawi sering dijadikan contoh bagaimana sistem layanan beradaptasi ketika jumlah pasien sangat besar sementara tenaga kesehatan terbatas. Dalam banyak kasus, perawat dan tenaga kesehatan lain memang diberi peran lebih besar dalam monitoring terapi.
Dalam kerangka global, pendekatan ini sebenarnya sudah cukup jelas arahnya. WHO mendorong layanan HIV yang lebih fleksibel dan berpusat pada pasien, termasuk kemungkinan dispensing obat hingga beberapa bulan bagi pasien yang stabil. Jadi secara konseptual, model tersebut memang bukan sesuatu yang baru dalam kebijakan kesehatan global.
Namun dalam praktik kebijakan di setiap negara, implementasi biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain aspek klinis, ada juga kesiapan sistem logistik obat, sistem monitoring, regulasi profesi kesehatan, serta tata kelola program secara nasional. Karena itu perubahan model layanan sering berjalan secara bertahap, bukan langsung sekaligus.
Saya sepakat bahwa diskusi seperti ini penting justru untuk membuka ruang refleksi bersama. Pengalaman dari berbagai negara, termasuk yang dokter sebutkan, dapat menjadi bahan pembelajaran berharga bagi pengembangan layanan HIV di Indonesia ke depan. Mudah-mudahan percakapan seperti ini juga membantu memperkaya perspektif kebijakan sehingga sistem layanan kita semakin responsif terhadap kebutuhan pasien.
Salam hangat kembali dari Indonesia. Terima kasih sudah ikut meramaikan diskusi ini.