Benarkah Hampir Separuh Penerima Vaksin HPV Mengalami Penyakit Baru? Mari Baca Datanya Sampai Selesai

Benarkah Hampir Separuh Penerima Vaksin HPV Mengalami Penyakit Baru? Mari Baca Datanya Sampai Selesai

Ada sebuah unggahan tentang vaksin HPV yang sekilas cukup mengkhawatirkan. Di dalamnya disebutkan bahwa hampir 49,6 persen orang yang menerima Gardasil mengalami kondisi medis baru setelah vaksinasi. Sebagai penguat, ditampilkan pula sebuah tabel berisi sederet penyakit yang terdengar serius, seperti gangguan tiroid, arthritis, psoriasis, multiple sclerosis, rheumatoid arthritis, bahkan lupus. Jika hanya melihat gambar itu, tidak mengherankan kalau seorang ibu atau ayah kemudian berpikir, “Kalau risikonya sebesar ini, mengapa vaksin HPV masih diberikan?”

Justru karena pertanyaan itu masuk akal, unggahan tersebut layak diperiksa dengan serius. Tidak cukup menjawabnya dengan kalimat pendek seperti “itu hoaks” atau “vaksin sudah terbukti aman”. Orang yang sedang khawatir tentu ingin tahu dari mana angka tersebut berasal dan apakah tabel yang ditampilkan memang asli. Setelah sumbernya ditelusuri, ternyata ceritanya cukup menarik. Tabelnya memang nyata, tetapi kesimpulan yang dibangun dari tabel tersebut tidak sesederhana yang terlihat di media sosial.

Ini penting karena informasi yang menyesatkan tidak selalu berisi data palsu. Kadang-kadang angkanya benar, dokumennya asli, bahkan nama penelitiannya juga benar. Yang hilang hanya beberapa potong informasi penting, misalnya apa arti angka tersebut, siapa kelompok pembandingnya, atau bagaimana peneliti sendiri menjelaskan data itu. Setelah konteks itu hilang, sebuah tabel yang sebenarnya biasa saja bisa terlihat sangat menakutkan.

Mari mulai dari tabel yang ada dalam unggahan tersebut. Saya berhasil menemukan tabel yang sama dalam dokumen resmi prescribing information Gardasil. Tabel itu mencatat perempuan usia 9 sampai 26 tahun yang selama penelitian mengalami kondisi baru yang potentially indicative of a systemic autoimmune disorder, atau secara sederhana, kondisi yang mungkin mengarah pada gangguan autoimun sistemik. Tabel lengkapnya dapat dibaca langsung dalam dokumen resmi Gardasil di DailyMed, layanan informasi obat milik U.S. National Library of Medicine. (DailyMed) Lihat tabel asli Gardasil di DailyMed

Ada kalimat kecil dalam judul tabel itu yang justru sangat penting: “regardless of causality.” Artinya, semua kondisi tersebut dicatat terlepas dari apakah peneliti menganggapnya berhubungan dengan vaksin atau tidak. Jadi, kalau seseorang didiagnosis psoriasis, penyakit tiroid atau arthritis selama masa penelitian, diagnosis itu dapat masuk ke dalam tabel. Masuknya sebuah diagnosis ke dalam tabel tidak otomatis berarti penelitian menyimpulkan bahwa vaksinlah yang menyebabkan penyakit tersebut.

Cara pencatatan seperti ini sebenarnya masuk akal. Ketika meneliti keamanan obat atau vaksin, kita justru ingin peneliti mencatat masalah kesehatan seluas mungkin, bukan hanya kejadian yang sejak awal mereka anggap disebabkan oleh vaksin. Kalau ada pola yang tidak biasa, data tersebut kemudian dapat dianalisis lebih lanjut. Persoalannya adalah ketika catatan tentang “kejadian selama penelitian” kemudian diterjemahkan di media sosial menjadi “penyakit yang disebabkan oleh vaksin”.

Di dalam tabel tersebut terdapat 10.706 perempuan yang menerima Gardasil. Sebanyak 245 orang tercatat mengalami setidaknya satu kondisi yang masuk dalam kategori yang berpotensi menunjukkan gangguan autoimun. Kalau dihitung, jumlahnya 2,3 persen. Di dalamnya memang terdapat nama-nama penyakit yang terlihat dalam unggahan tadi, antara lain gangguan tiroid, psoriasis, inflammatory bowel disease, rheumatoid arthritis, dua kasus multiple sclerosis, dan satu kasus systemic lupus erythematosus. (DailyMed)

Kalau berhenti membaca sampai di sini, 245 kasus tentu terdengar banyak. Tetapi tabel penelitian tidak boleh dibaca seperti daftar korban kecelakaan. Kita belum tahu apakah 245 itu tinggi, rendah, atau sebenarnya biasa saja. Untuk mengetahuinya, kita perlu melihat kelompok lain yang digunakan sebagai pembanding. Dan di sinilah bagian tabel yang sengaja dipotong dalam unggahan tersebut menjadi sangat penting.

Di sebelah kolom Gardasil sebenarnya terdapat kolom AAHS control atau saline placebo, dengan 9.412 peserta. Pada kelompok Gardasil, kondisi yang berpotensi menunjukkan gangguan autoimun tercatat pada 245 orang atau 2,3 persen. Pada kelompok pembanding, terdapat 218 orang dengan kondisi serupa. Persentasenya juga 2,3 persen. (DailyMed)

Jadi, jika tabel itu ditampilkan secara utuh, pesan yang diterima pembaca menjadi sangat berbeda. Bukan “2,3 persen penerima Gardasil mengalami penyakit autoimun”, melainkan 2,3 persen pada kelompok Gardasil dan 2,3 persen pada kelompok pembanding. Beberapa diagnosis bahkan lebih banyak pada kelompok pembanding, misalnya multiple sclerosis tercatat dua kasus pada Gardasil dan empat pada kelompok kontrol. Hypothyroidism tercatat 35 kasus pada Gardasil dan 38 pada kontrol, sementara psoriasis tercatat 13 berbanding 15. (DailyMed)

Ini bukan berarti setiap angka individual harus dianggap tidak penting. Kalau terdapat penyakit tertentu yang muncul lebih banyak pada kelompok vaksin, peneliti tetap perlu melihat apakah perbedaannya cukup besar, apakah konsisten dalam penelitian lain, dan apakah terdapat penjelasan biologis yang masuk akal. Tetapi tabel tersebut jelas tidak mendukung kesan bahwa secara keseluruhan penerima Gardasil mengalami gangguan autoimun jauh lebih banyak. Hasil akhirnya justru sama, 2,3 persen berbanding 2,3 persen.

Mengapa kelompok pembanding begitu penting? Bayangkan ada penelitian terhadap 10.000 orang yang setiap pagi minum kopi. Lima tahun kemudian, 500 orang di antara mereka diketahui mengalami hipertensi. Seseorang kemudian membuat unggahan berjudul, “500 peminum kopi mengalami hipertensi.” Angkanya mungkin benar, tetapi kita belum tahu apakah kopi memang meningkatkan risiko hipertensi.

Untuk menjawabnya, kita perlu mengetahui apa yang terjadi pada orang yang tidak minum kopi. Kalau di antara 10.000 orang yang tidak minum kopi ternyata juga terdapat sekitar 500 orang dengan hipertensi, kesimpulannya tentu berubah, bahwa tidak ada bedanya antara peminum kopi atau tidak minum kopi dalam menyebabkan hypertensi. Penyakit tetap terjadi meskipun seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang sedang kita curigai sebagai penyebabnya. Prinsip yang sama berlaku ketika menilai keamanan vaksin.

Sekarang kita sampai pada angka 49,6 persen, angka yang menjadi pusat perhatian unggahan tersebut. Di sini justru kita perlu lebih hati-hati. Angka sekitar 49 sampai 50 persen memang beredar dalam berbagai tulisan yang mengkritik clinical trial Gardasil, biasanya dikaitkan dengan istilah new medical conditions atau new medical history. Tetapi setelah menelusuri dokumen regulator FDA, saya tidak menemukan angka 49,6 persen sebagai kesimpulan resmi bahwa 49,6 persen penerima Gardasil mengalami penyakit akibat vaksin.

Justru dokumen clinical review FDA memberikan gambaran yang lebih lengkap. Dalam gabungan beberapa penelitian Gardasil, FDA mencatat 8.628 dari 11.778 peserta Gardasil atau 73,3 persen mempunyai suatu new medical history setelah hari pertama penelitian. Pada kelompok placebo, angkanya 7.390 dari 9.686 peserta atau 76,3 persen. Reviewer FDA secara eksplisit menyatakan bahwa proporsi peserta dengan kondisi medis baru tersebut comparable in both treatment groups, atau sebanding antara kedua kelompok. (U.S. Food and Drug Administration) Baca Clinical Review Gardasil dari FDA

Angka 73 persen mungkin malah terdengar lebih mengerikan daripada 49,6 persen. Tetapi justru angka besar ini membantu menjelaskan mengapa istilah new medical condition tidak boleh diterjemahkan sebagai “cedera akibat vaksin”. Dalam masa follow-up yang panjang, sangat banyak peserta mempunyai sesuatu yang baru dalam riwayat kesehatannya. Hal yang sama terjadi pada kelompok yang menerima Gardasil dan pada kelompok pembanding, bahkan dalam data tersebut angkanya sedikit lebih tinggi pada kelompok pembanding. (U.S. Food and Drug Administration)

Bayangkan seorang remaja masuk penelitian ketika berusia 14 atau 15 tahun kemudian dipantau selama beberapa tahun. Selama waktu itu ia mungkin terkena influenza, mengalami infeksi saluran kemih, sakit kepala, cedera saat olahraga, gangguan kulit, vaginitis, atau berbagai masalah kesehatan lain. Semua itu dapat menjadi diagnosis atau riwayat medis baru. Dalam data FDA, kategori new medical conditions memang berisi hal-hal yang sangat beragam, mulai dari infeksi, cedera, sakit kepala, gangguan reproduksi sampai prosedur bedah. (U.S. Food and Drug Administration)

Karena itulah ada perbedaan besar antara kalimat “peserta mengalami kondisi medis baru selama penelitian” dengan “peserta mengalami penyakit akibat vaksin”. Kalimat pertama hanya mengatakan bahwa sesuatu terjadi setelah seseorang masuk penelitian. Kalimat kedua sudah menyatakan hubungan sebab akibat. Kita tidak boleh melompat dari kalimat pertama ke kalimat kedua hanya karena keduanya terdengar mirip.

Ada satu keberatan lain yang sering muncul dan menurut saya patut dibahas secara terbuka. Sebagian clinical trial Gardasil memang menggunakan AAHS, yaitu adjuvan aluminium yang juga terdapat dalam vaksin, sebagai kelompok kontrol, dan bukan semuanya menggunakan suntikan saline biasa. Kritikus vaksin sering mengatakan bahwa jika vaksin dan kontrol sama-sama mengandung adjuvan, perbedaan efek samping antara keduanya bisa menjadi sulit terlihat. Pertanyaan seperti ini sah dan lebih baik dijawab dengan data daripada dihindari.

Menariknya, FDA juga membahas penelitian HPV-018 yang mempunyai kelompok normal saline, sehingga memungkinkan perbandingan langsung dengan placebo yang tidak mengandung aluminium. Pada remaja usia 9 sampai 15 tahun yang dipantau dari bulan ke-7 sampai bulan ke-30, new medical history tercatat pada 65,3 persen kelompok Gardasil dan 67,1 persen kelompok saline placebo. FDA kembali menyatakan proporsi kondisi medis baru pada kedua kelompok tersebut sebanding. Jadi, tingginya angka new medical condition tidak hanya terlihat ketika pembandingnya menggunakan AAHS. (U.S. Food and Drug Administration)

Dalam analisis yang sama, FDA juga meneliti kejadian autoimun. Pada peserta yang menerima Gardasil tercatat tiga kejadian dari 945 orang, sementara pada kelompok placebo tanpa aluminium terdapat empat kejadian dari 482 orang. Angkanya tentu terlalu kecil untuk digunakan sendirian sebagai jawaban atas seluruh pertanyaan mengenai keamanan vaksin, tetapi setidaknya menunjukkan mengapa persoalan placebo tidak sesederhana mengatakan bahwa “tidak pernah ada kelompok saline”. (U.S. Food and Drug Administration)

Sampai di sini sebenarnya ada satu pelajaran yang jauh lebih luas daripada soal Gardasil. Sesuatu yang terjadi setelah vaksinasi belum tentu terjadi karena vaksinasi. Hubungan waktu memang merupakan salah satu petunjuk yang penting, tetapi bukan bukti sebab akibat. Dalam kedokteran, kita perlu melihat apakah kejadian tersebut lebih sering terjadi pada orang yang menerima vaksin dibandingkan orang yang tidak menerimanya.

Bayangkan satu juta remaja menerima vaksin HPV tahun ini. Dalam lima tahun berikutnya, beberapa pasti akan didiagnosis diabetes, penyakit tiroid, lupus, multiple sclerosis atau kanker. Ada yang akan mengalami kecelakaan, patah tulang, bahkan meninggal karena berbagai sebab. Semua kejadian itu secara kronologis memang terjadi setelah mereka menerima vaksin HPV, tetapi jelas tidak berarti vaksin HPV menyebabkan semuanya.

Setiap penyakit mempunyai frekuensi alamiahnya sendiri dalam masyarakat. Epidemiolog menyebutnya sebagai background incidence. Karena itu, laporan bahwa seseorang mengalami multiple sclerosis beberapa bulan setelah vaksinasi memang perlu dicatat dan diperiksa, tetapi laporan tersebut sendirian belum membuktikan bahwa vaksin adalah penyebabnya. Kita perlu mengetahui apakah multiple sclerosis muncul lebih sering pada kelompok yang divaksinasi daripada yang seharusnya terjadi tanpa vaksin.

Itulah yang kemudian dilakukan melalui penelitian dengan jumlah peserta jauh lebih besar daripada clinical trial awal. Sebuah penelitian di Denmark dan Swedia yang diterbitkan dalam British Medical Journal mengikuti 997.585 anak perempuan usia 10 sampai 17 tahun. Di antara mereka, 296.826 menerima lebih dari 696 ribu dosis vaksin HPV quadrivalent. Peneliti memeriksa 53 kejadian autoimun, neurologis dan tromboemboli, dan hasilnya tidak menunjukkan pola yang mendukung peningkatan risiko akibat vaksin HPV secara keseluruhan. (BMJ) Baca penelitian Denmark-Swedia di BMJ

Multiple sclerosis juga diperiksa secara lebih khusus dalam penelitian lain yang diterbitkan di JAMA. Penelitian tersebut menggunakan data nasional Denmark dan Swedia, mencakup hampir empat juta perempuan usia 10 sampai 44 tahun, dan melihat diagnosis multiple sclerosis maupun penyakit demielinisasi lain setelah vaksin HPV. Hasilnya tidak menunjukkan hubungan antara vaksinasi HPV quadrivalent dengan meningkatnya risiko multiple sclerosis atau penyakit demielinisasi lainnya. (JAMA Network) Baca penelitian multiple sclerosis di JAMA

Bukti seperti ini penting karena clinical trial sebelum izin edar memang mempunyai keterbatasan. Kalau suatu efek samping hanya terjadi sekali dalam 100.000 atau satu juta orang, penelitian dengan sepuluh atau dua puluh ribu peserta bisa saja tidak menemukannya. Karena itu keamanan vaksin tidak berhenti dinilai ketika izin edar diberikan. Justru setelah jutaan dosis digunakan, kita mempunyai kesempatan lebih baik untuk mencari kemungkinan efek samping yang sangat jarang.

Bukti mengenai penyakit autoimun juga terus bertambah. Pada 2025, sebuah systematic review dan meta-analysis menggabungkan 14 penelitian dengan total 8.088.838 orang, sekitar 2,04 juta di antaranya menerima vaksin HPV. Secara keseluruhan, penelitian tersebut tidak menemukan peningkatan risiko penyakit autoimun pada orang yang menerima vaksin HPV. Penulisnya tetap menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan, terutama pada laki-laki dan untuk beberapa penyakit autoimun tertentu, sebuah kehati-hatian yang memang sewajarnya ada dalam ilmu pengetahuan. (PubMed) Baca systematic review dan meta-analysis 2025 di PubMed

CDC sampai saat ini juga masih melakukan pemantauan keamanan HPV vaccine. Menurut CDC, lebih dari 135 juta dosis vaksin HPV telah didistribusikan di Amerika Serikat dan data pemantauan selama lebih dari 15 tahun memberikan profil keamanan yang meyakinkan. Efek samping yang paling sering adalah nyeri, kemerahan atau bengkak di tempat suntikan, pusing, pingsan, mual dan sakit kepala. CDC juga menekankan bahwa laporan yang masuk ke sistem seperti VAERS tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa vaksin menyebabkan kejadian tersebut, karena sistem itu memang dirancang sebagai peringatan awal untuk menangkap sebanyak mungkin kemungkinan sinyal. (CDC) Baca informasi keamanan vaksin HPV dari CDC

Badan kesehatan dunia mengambil posisi yang serupa. Keamanan vaksin HPV telah berulang kali ditinjau oleh Global Advisory Committee on Vaccine Safety. WHO menyatakan bahwa pemantauan setelah pemasaran sejauh ini tidak menemukan masalah keamanan serius baru, selain risiko reaksi hipersensitivitas termasuk anafilaksis yang memang sangat jarang. WHO juga mencatat bahwa systematic review tidak menunjukkan peningkatan penyakit kronis baru, termasuk penyakit autoimun, pada penerima vaksin HPV. (IRIS) Baca dokumen WHO tentang vaksin HPV dan keamanannya

Apakah semua ini berarti vaksin HPV mempunyai risiko nol? Tentu tidak. Tidak ada obat, vaksin atau tindakan medis yang benar-benar mempunyai risiko nol. Vaksin HPV dapat menyebabkan efek samping, sebagian besar ringan seperti nyeri di tempat suntikan, demam ringan, sakit kepala atau mual, sementara reaksi alergi berat dapat terjadi tetapi sangat jarang. Mengatakan hal ini bukan berarti melemahkan pesan vaksinasi, justru komunikasi kesehatan menjadi lebih dipercaya ketika manfaat dan risiko dibicarakan secara terbuka.

Di sisi lain, risiko vaksin juga harus dibandingkan dengan apa yang hendak dicegah. HPV bukan sekadar virus yang menyebabkan kutil kelamin. Infeksi menetap oleh beberapa tipe HPV merupakan penyebab utama kanker serviks dan berhubungan pula dengan kanker anus, penis, vulva, vagina serta sebagian kanker orofaring. CDC memperkirakan vaksin HPV berpotensi mencegah lebih dari 90 persen kanker yang disebabkan HPV. (CDC)

Yang lebih menarik, kita sekarang tidak lagi hanya mempunyai bukti bahwa vaksin menurunkan infeksi HPV atau lesi prakanker. Data dunia nyata mulai menunjukkan penurunan kanker itu sendiri. Sebuah penelitian nasional di Swedia yang diterbitkan di New England Journal of Medicine mengikuti lebih dari 1,67 juta perempuan dan menemukan risiko kanker serviks invasif jauh lebih rendah pada perempuan yang telah mendapatkan vaksin HPV quadrivalent, terutama jika vaksin diberikan sebelum usia 17 tahun. Setelah penyesuaian berbagai faktor, kelompok yang divaksinasi sebelum usia 17 tahun mempunyai angka kejadian kanker serviks yang jauh lebih rendah dibandingkan yang tidak divaksinasi. (New England Journal of Medicine) Baca penelitian kanker serviks di New England Journal of Medicine

Karena itu, pembahasan mengenai keamanan Gardasil sebaiknya tidak berakhir pada dua pilihan ekstrem, “vaksin sepenuhnya aman” atau “vaksin berbahaya”. Pertanyaan yang lebih berguna adalah seberapa besar manfaatnya, risiko apa yang memang terbukti, seberapa sering risiko tersebut terjadi, dan apakah kejadian yang dicurigai benar-benar lebih banyak dibandingkan kelompok yang tidak menerima vaksin. Cara berpikir seperti ini mungkin kurang menarik untuk dijadikan judul sensasional di media sosial, tetapi jauh lebih dekat dengan cara ilmu kedokteran bekerja. Kita tidak mencari sesuatu yang tanpa risiko, kita membandingkan manfaat dan risiko berdasarkan bukti terbaik yang tersedia.

Dan kita sebenarnya tidak perlu meminta masyarakat untuk “percaya saja” kepada vaksin. Orang tua berhak bertanya apa yang diberikan kepada anaknya. Mereka berhak bertanya tentang efek samping, kandungan vaksin, cara clinical trial dilakukan, siapa kelompok pembandingnya, berapa lama peserta diamati, bahkan siapa yang membiayai penelitian. Pertanyaan seperti itu bukan sikap antivaksin, justru merupakan bentuk literasi kesehatan yang sehat.

Tetapi standar kritis yang sama perlu kita gunakan kepada semua pihak. Kalau kita meminta perusahaan farmasi menampilkan data secara lengkap, maka orang yang mengkritik perusahaan farmasi juga seharusnya menampilkan data secara lengkap. Kalau kita ingin tahu apa yang terjadi pada kelompok Gardasil, kita juga harus melihat apa yang terjadi pada kelompok kontrol. Jangan sampai kita sangat kritis terhadap sebuah penelitian beratus-ratus halaman, tetapi menerima begitu saja sebuah potongan tabel di Facebook karena isinya sesuai dengan apa yang sudah kita yakini.

Di sinilah letak persoalan unggahan tentang 49,6 persen tadi. Screenshot tabelnya memang berasal dari data nyata. Penyakit yang tertulis di dalamnya juga bukan nama penyakit yang dibuat-buat. Tetapi ketika kolom pembanding tidak ditampilkan, frasa regardless of causality tidak dijelaskan, dan istilah new medical condition dipahami seolah-olah berarti “penyakit akibat vaksin”, cerita yang diterima pembaca berubah sangat jauh dari isi dokumen aslinya.

Bahkan angka 49,6 persen sendiri perlu diperlakukan dengan hati-hati. Dalam dokumen primer FDA yang dapat diperiksa publik, angka keseluruhan new medical history yang saya temukan justru 73,3 persen pada Gardasil dan 76,3 persen pada placebo, bukan bukti bahwa tiga perempat penerima vaksin mengalami cedera akibat vaksin, tetapi gambaran betapa luasnya kategori “kondisi medis baru” selama masa follow-up. Pada penelitian dengan saline placebo, angkanya juga hampir sama, 65,3 persen pada Gardasil dan 67,1 persen pada saline. Data ini justru menunjukkan mengapa persentase new medical conditions tidak boleh dibaca sebagai persentase orang yang “dirugikan oleh vaksin”. (U.S. Food and Drug Administration)

Mungkin ada satu kebiasaan sederhana yang dapat kita gunakan ketika menemukan angka kesehatan yang mengejutkan di media sosial. Sebelum bertanya apakah angkanya benar atau salah, tanyakan dulu: angka itu sebenarnya mengukur apa? Setelah itu, lihat berapa jumlah pesertanya, siapa kelompok pembandingnya, berapa lama mereka diamati, dan apakah peneliti mengatakan kejadian tersebut disebabkan oleh intervensi atau hanya terjadi sesudahnya. Sering kali empat pertanyaan sederhana itu sudah cukup untuk membuat sebuah klaim terlihat sangat berbeda.

Dalam kasus Gardasil ini, tabel lengkap memberikan jawaban yang cukup terang. Kondisi yang berpotensi menunjukkan gangguan autoimun tercatat pada 2,3 persen penerima Gardasil dan 2,3 persen kelompok pembanding. Penelitian dengan populasi jauh lebih besar kemudian juga tidak menunjukkan peningkatan risiko penyakit autoimun secara keseluruhan atau multiple sclerosis akibat vaksin HPV. Sementara pada sisi manfaat, bukti populasi menunjukkan vaksinasi HPV berhubungan dengan penurunan nyata kejadian kanker serviks. (DailyMed)

Jadi, masalah utama pada unggahan yang beredar itu bukan karena semua angkanya palsu. Justru kasus seperti ini lebih menarik, karena memperlihatkan bagaimana data yang benar dapat menghasilkan cerita yang salah ketika konteksnya dihilangkan. Sebuah tabel tidak pernah hanya terdiri dari angka, ia juga mempunyai definisi, denominator, kelompok pembanding dan cara analisis. Kalau bagian-bagian itu ikut dibaca, cerita mengenai “49,6 persen penerima Gardasil mengalami penyakit baru” ternyata tidak sesederhana yang dibuat dalam sebuah screenshot.

Dan mungkin itulah pelajaran yang paling berguna dari kasus ini. Ketika membaca informasi kesehatan, kita tidak harus langsung percaya kepada dokter, pemerintah, perusahaan farmasi, atau orang yang mengkritik vaksin. Yang perlu kita lakukan adalah memberikan standar pertanyaan yang sama kepada semuanya. Buka sumbernya, baca sampai selesai, dan jangan hanya melihat angka yang paling besar.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply