Di layar televisi, beberapa dokter duduk rapi dalam sebuah studio. Mereka berbicara tentang hipertensi, kolesterol, diabetes, serangan jantung, dan stroke, dengan istilah medis yang terdengar meyakinkan. Sebuah alat kemudian diperlihatkan, disusul pengalaman testimoni dari pengguna yang merasa lebih sehat, lalu nomor pemesanan muncul di layar. Tayangan itu terlihat seperti acara edukasi kesehatan, tetapi sekaligus mengarahkan penonton kepada satu produk tertentu, seperti yang dapat dilihat dalam salah satu tayangan promosi Aculaser di MetroTV.
Bagi masyarakat awam, kehadiran sosok dokter di tayangan layar televisi mengubah cara pesan itu diterima. Bila seorang penjual biasa mengatakan suatu alat dapat membantu mencegah stroke, orang mungkin masih ragu. Namun, ketika kalimat serupa disampaikan di antara dokter, ilustrasi pembuluh darah, dan penjelasan tentang mitokondria atau oksida nitrat, keraguan mudah berubah menjadi kepercayaan. Penonton tidak lagi merasa sedang menonton iklan, melainkan seperti sedang memperoleh rekomendasi medis.
Situs resmi Aculaser memang menyampaikan manfaat yang sangat luas. Alat berbasis low-level laser dan stimulasi listrik otot itu disebut dapat membantu mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, memperbaiki kualitas darah, menghambat penggumpalan, serta mendukung pencegahan dan pemulihan stroke. Bahkan terdapat penjelasan bahwa sinar laser dapat membantu mengurai gumpalan darah dan membuat darah lebih lancar. Rangkaian klaim tersebut dapat dibaca langsung pada situs Aculaser.
Pertanyaan pentingnya bukan apakah sinar berintensitas rendah sama sekali tidak mungkin menimbulkan efek biologis. Pertanyaannya adalah apakah efek tersebut cukup besar, bertahan cukup lama, aman, dan benar-benar menurunkan kejadian stroke atau serangan jantung. Jarak antara “mungkin memengaruhi suatu proses di dalam sel” dan “terbukti mencegah stroke” sangatlah jauh. Di sepanjang jarak itulah penelitian klinis seharusnya bekerja.
Memang betul ada penelitian yang dipublikasi di tahun 2018 mengenai laser acupuncture pada pasien hipertensi. Sebuah uji acak melibatkan 102 pasien yang tekanan darahnya sulit terkontrol, meskipun hanya 79 orang menyelesaikan seluruh rangkaian penelitian. Hasilnya menunjukkan penurunan tekanan darah setelah enam kali terapi, tetapi semua peserta tetap menggunakan obat antihipertensi dan laser diberikan oleh tenaga terlatih pada beberapa titik tubuh selama enam minggu. Penelitian itu bukan pengujian gelang Aculaser dan sama sekali tidak menilai apakah pesertanya kemudian lebih jarang mengalami stroke, sebagaimana dapat dibaca dalam laporan uji klinis tersebut.
Penelitian lain menggunakan penyinaran melalui kulit di sekitar nadi pada pergelangan tangan dan melalui lapisan bagian dalam hidung atau mulut. Studi ini hanya melibatkan 36 perempuan yang dibagi menjadi enam kelompok, sehingga setiap kelompok berisi enam orang. Para pesertanya justru tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung, dan penelitinya menyebut penelitian itu sebagai studi perintis yang masih memerlukan penelitian lebih besar. Temuannya menarik untuk dikaji, tetapi tentu belum dapat menjadi dasar untuk mengatakan bahwa sebuah produk konsumen mampu mencegah hipertensi atau stroke pada masyarakat luas. Artikel penelitiannya tersedia di sini.
Dalam ilmu kedokteran, sebuah mekanisme yang terdengar masuk akal belum tentu menghasilkan manfaat nyata bagi pasien. Suatu terapi dapat meningkatkan kadar zat tertentu di laboratorium, tetapi tidak mengurangi jumlah orang yang sakit atau meninggal. Sebaliknya, terapi yang benar-benar bekerja juga dapat membawa risiko yang harus dihitung, termasuk perdarahan bila memang dapat menghambat pembekuan atau menguraikan gumpalan darah. Karena itu, kata-kata seperti “mengencerkan darah” dan “menguraikan gumpalan” seharusnya menuntut pembuktian yang lebih ketat, bukan justru dipakai sebagai kalimat penjualan.
Sekarang bayangkan bila antibiotik dahulu diperkenalkan dengan pola yang sama. Sebuah program televisi menampilkan beberapa dokter, pasien yang mengaku sembuh, animasi bakteri yang menghilang, dan kalimat bahwa obat baru itu membantu membersihkan tubuh dari infeksi. Penonton lalu diminta membeli antibiotik melalui nomor yang tertera di layar dan menggunakannya di rumah agar terlindung dari pneumonia, meningitis, sepsis, atau tuberkulosis. Mungkin penjualannya akan sangat tinggi, tetapi belum tentu penyakitnya dapat dikendalikan.
Penisilin tidak mengubah dunia karena dipromosikan dengan testimoni. Setelah pengamatan Alexander Fleming pada 1928, Howard Florey, Ernst Chain, dan tim Oxford mengembangkan penelitian lebih lanjut untuk menunjukkan bahwa zat itu dapat menyelamatkan pasien dengan infeksi bakteri berat. Produksinya kemudian diperbesar melalui kerja sama peneliti, industri, dan pemerintah, sementara setiap kelompok produksi diperiksa kekuatan, kemurnian, toksisitas, dan sterilitasnya. Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan penisilin lahir dari penelitian yang dapat diulang, pengawasan mutu, dan kemampuan memastikan obat yang diberikan kepada pasien benar-benar sama kualitasnya. FDA mendokumentasikan proses perkembangan penisilin ini.
Tentu tidak berarti bahwa jaman dahulu dunia farmasi bebas dari pemasaran berlebihan. Banyak obat dan kombinasi antibiotik pernah dijual dengan klaim yang ternyata tidak cukup didukung bukti. Ketika Amerika Serikat kemudian meninjau kembali ribuan obat yang beredar sebelum aturan pembuktian efektivitas diperketat pada 1962, lebih dari seribu produk dinilai tidak efektif. Regulasi obat modern justru tumbuh karena masyarakat belajar bahwa keamanan, efektivitas, dan iklan tidak boleh ditentukan hanya oleh perusahaan yang menjual produknya. Sejarah penilaian ulang tersebut tercatat dalam arsip FDA.
Kisah yang lebih dekat dengan kesehatan publik adalah streptomisin, antibiotik pertama yang efektif melawan tuberkulosis. Obat ini ditemukan pada 1943, ketika TB masih menjadi salah satu penyebab kematian yang sangat ditakuti. Kabar mengenai obat baru tentu dapat saja langsung digunakan untuk menjual harapan kepada keluarga pasien. Namun, para peneliti memilih menempatkannya dalam pengujian yang terstruktur, bukan menjualnya melalui marketing layar perak dengan memanfaatkan dokter sebagai pembicaranya.
Pada 1948, British Medical Research Council menerbitkan hasil penelitian streptomisin pada lebih dari seratus pasien TB paru. Pasien ditempatkan secara acak ke kelompok yang memperoleh streptomisin dan istirahat total di tempat tidur atau kelompok yang hanya memperoleh perawatan standar saat itu. Foto rontgen dan perkembangan penyakit dinilai secara terstruktur agar harapan dokter maupun pasien tidak mudah memengaruhi kesimpulan. Penelitian ini kemudian dikenal sebagai salah satu tonggak uji klinis acak modern, dan laporan aslinya masih dapat dibaca di British Medical Journal.
Hasil penelitian tersebut membawa dua berita sekaligus. Streptomisin memang memberikan manfaat, tetapi kuman TB dapat menjadi kebal ketika obat digunakan sendirian. Penelitian lanjutan menunjukkan resistansi streptomisin muncul pada sebagian besar pasien yang menerima obat tunggal, sedangkan kombinasi dengan para-aminosalicylic acid atau PAS sangat menurunkan risiko tersebut. Dari sinilah berkembang prinsip bahwa TB harus diobati menggunakan kombinasi beberapa obat, bukan mengandalkan satu produk yang sedang populer. Sejarah lahirnya terapi kombinasi TB dijelaskan dalam jurnal mBio.
Sekarang coba anda bayangkan bila saat itu streptomisin dapat dibeli bebas setelah masyarakat melihat testimoni di media. Seseorang yang batuk lama mungkin membelinya tanpa pemeriksaan dahak, sedangkan orang lain menggunakannya untuk penyakit yang bukan TB. Pasien yang merasa lebih baik setelah beberapa minggu dapat berhenti karena menganggap dirinya sudah sembuh. Mereka yang tidak mampu membeli obat sampai selesai akan menerima dosis yang terputus-putus, sementara kuman yang tersisa mendapat kesempatan menjadi kebal.
Pada TB, membaiknya gejala tidak selalu berarti seluruh kuman telah hilang. Batuk dan demam dapat berkurang jauh sebelum pengobatan selesai, sehingga pasien mudah merasa tidak perlu meneruskan obat. Bila pengobatan dihentikan terlalu cepat, penyakit dapat kambuh dan kuman yang telah kebal dapat menular kepada keluarga maupun masyarakat. WHO menegaskan bahwa penggunaan obat yang salah, penggunaan satu obat saja, mutu obat yang buruk, serta penghentian terapi sebelum waktunya merupakan penyebab penting munculnya TB resistan obat.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara menjual produk dan menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Dalam transaksi biasa, keputusan pembeli terutama memengaruhi dirinya sendiri. Dalam pengobatan penyakit menular, penggunaan obat oleh satu orang dapat menentukan apakah kuman yang kebal kemudian menyebar kepada orang lain. Antibiotik karena itu tidak dapat diperlakukan seperti jam kesehatan, suplemen, atau barang elektronik yang keberhasilannya cukup diukur dari jumlah unit terjual.
Puluhan tahun setelah penemuan streptomisin, penanggulangan TB dirumuskan dalam sistem yang jauh lebih luas daripada sekadar menyediakan obat. Strategi DOTS dari WHO menempatkan komitmen pemerintah, pemeriksaan bakteriologis, pengobatan standar dengan dukungan pasien, pasokan obat yang tidak terputus, serta pencatatan dan pelaporan sebagai satu kesatuan. Bila salah satu bagian tidak berjalan, obat yang bagus pun dapat gagal menghasilkan pengendalian penyakit. Lima unsur tersebut dijelaskan dalam dokumen WHO tentang strategi DOTS.
Pasien TB bukan hanya perlu diberi tablet. Ia perlu memperoleh diagnosis yang benar, kombinasi obat yang sesuai, pemantauan efek samping, dukungan agar dapat menyelesaikan terapi, dan kepastian bahwa obat tersedia sampai hari terakhir. Orang yang tinggal serumah juga perlu diperiksa, sumber penularan perlu ditemukan, dan hasil pengobatan harus dicatat. Dengan cara itulah sebuah penemuan ilmiah berubah menjadi keberhasilan kesehatan masyarakat.
Di Indonesia, layanan deteksi dan pengobatan TBC disediakan tanpa biaya melalui program pemerintah. Kebijakan ini bukan sekadar bentuk bantuan kepada orang yang tidak mampu membeli obat. Pengobatan yang dapat diakses dan diselesaikan oleh setiap pasien juga melindungi orang lain dari penularan serta menekan munculnya kuman yang kebal. Pada 2025, Kementerian Kesehatan kembali menegaskan bahwa layanan TBC tersedia gratis.
Pola promosi Aculaser memperlihatkan urutan yang terbalik. Penjelasan mengenai pembangkit energi di dalam sel, pelebaran pembuluh darah, keping darah yang membentuk bekuan, dan proses penguraian gumpalan disusun menjadi cerita yang terdengar ilmiah, kemudian dihubungkan dengan diabetes, hipertensi, stroke, serta serangan jantung. Testimoni memberikan wajah manusia, sedangkan kehadiran dokter memberikan bobot kepercayaan. Setelah itu, masyarakat diminta mengambil keputusan pembelian, meskipun bukti mengenai pencegahan penyakit berat tersebut belum setara dengan besarnya klaim.
Pihak penjual mencantumkan nomor izin edar alat kesehatan dari Kementerian Kesehatan. Nomor tersebut penting karena produk kesehatan memang tidak boleh beredar tanpa memenuhi persyaratan yang berlaku. Namun, izin edar tidak berarti bahwa setiap kalimat dalam setiap iklan otomatis telah dibuktikan melalui penelitian jangka panjang. Izin untuk mengedarkan produk tidak boleh berubah makna menjadi jaminan bahwa produk tersebut pasti mencegah stroke, menurunkan gula darah, atau menguraikan gumpalan pada setiap pengguna.
Aturan terbaru juga tidak memberikan kebebasan tanpa batas kepada pengiklan alat kesehatan. Pasal 84 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2026 mensyaratkan promosi dan iklan memberikan informasi yang objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan mengenai manfaat, kontraindikasi, efek samping, serta hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan. Artinya, membicarakan manfaat saja tanpa menjelaskan keterbatasan bukti dan risiko bukanlah cara komunikasi kesehatan yang ideal. Masyarakat berhak mengetahui bukan hanya apa yang dijanjikan, tetapi juga apa yang belum diketahui. Peraturan tersebut dapat dibaca melalui basis data peraturan BPK.
Tanggung jawab dokter dalam situasi seperti ini bahkan lebih besar daripada tanggung jawab pembawa acara biasa. Masyarakat memberikan kepercayaan kepada dokter karena menganggap pendapatnya lahir dari ilmu dan kepentingan pasien, bukan dari target penjualan. Tentu tidak setiap dokter yang tampil dalam acara bersponsor otomatis melakukan pelanggaran etik, karena peran, pernyataan, dan keterbukaan mengenai hubungan komersialnya perlu diperiksa terlebih dahulu. Namun, KODEKI 2025 memperkuat pembahasan mengenai kemandirian profesi, konflik kepentingan, hubungan dengan industri, promosi produk, penggunaan media, dan kehati-hatian terhadap teknologi yang belum terbukti. Kehadiran dokter dalam promosi komersial karena itu tidak boleh hanya dinilai dari apakah kalimatnya menggunakan kata “membantu”, tetapi juga dari kesan keseluruhan yang diterima masyarakat. Ringkasan perubahan KODEKI 2025 dapat dibaca di laman PERSI Jawa Timur.
Televisi dan media juga memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Sebuah iklan yang jelas biasanya membuat penonton sadar bahwa ia sedang dibujuk untuk membeli sesuatu. Masalah muncul ketika promosi dikemas menyerupai program kesehatan, lengkap dengan dokter, kisah pasien, dan penjelasan anatomi, sementara hubungan komersialnya tidak terlihat jelas. Batas antara informasi dan iklan menjadi kabur, padahal justru batas itulah yang diperlukan agar penonton dapat menilai pesan dengan jernih.
Kerugian dari promosi berlebihan tidak selalu muncul sebagai efek samping langsung dari alat. Kerugiannya bisa hadir dalam bentuk rasa aman palsu, ketika seseorang merasa sudah terlindungi dari stroke karena rutin memakai alat di pergelangan tangan. Ia mungkin menunda pemeriksaan tekanan darah, tidak serius mengurangi garam, atau mulai meragukan obat yang sudah diresepkan. Pada pasien yang pernah mengalami stroke, keyakinan berlebihan bahkan dapat mengganggu kepatuhan terhadap obat tekanan darah, obat penurun kolesterol, atau obat pencegah pembekuan yang indikasinya telah dipertimbangkan oleh dokter.
Pencegahan hipertensi dan stroke sebenarnya tidak membutuhkan janji yang rumit. Tekanan darah perlu diukur dengan benar, berat badan dijaga, konsumsi garam dikurangi, aktivitas fisik ditingkatkan, rokok dihentikan, dan obat digunakan bila memang diperlukan. Faktor lain seperti diabetes, kolesterol tinggi, gangguan irama jantung, dan penyakit ginjal juga perlu ditangani sesuai kondisi masing-masing. Langkah-langkah inilah yang tetap menjadi dasar pencegahan dalam panduan WHO tentang hipertensi dan pedoman tekanan darah ACC/AHA 2025.
Masyarakat tentu tidak mungkin membaca semua jurnal sebelum membeli sebuah alat kesehatan. Namun, ada beberapa pertanyaan sederhana yang dapat diajukan ketika melihat klaim besar. Apakah penelitian dilakukan terhadap produk yang sama, bukan sekadar teknologi yang mirip? Apakah yang diukur hanya perubahan sesaat pada tekanan darah atau benar-benar penurunan kejadian stroke, dan apakah penelitian dilakukan oleh pihak independen dengan pembanding serta masa pemantauan yang cukup?
Pertanyaan lain tidak kalah penting, yaitu siapa yang membayar acara, penelitian, dan dokter yang tampil. Hubungan finansial tidak selalu berarti informasi yang disampaikan salah, tetapi hubungan itu perlu terbuka agar masyarakat dapat menilai kemungkinan konflik kepentingan. Bila suatu tayangan bertujuan menjual produk, seharusnya hal itu dinyatakan dengan jelas sejak awal. Transparansi bukan tuduhan kepada siapa pun, melainkan perlindungan bagi penonton dan juga bagi dokter yang ingin menjaga kepercayaan publik.
Tulisan ini bukan ajakan untuk menolak setiap teknologi baru. Laser berintensitas rendah, stimulasi listrik otot, dan terapi cahaya yang memengaruhi proses biologis sel tetap layak diteliti untuk tujuan yang spesifik, termasuk kemungkinan penggunaannya sebagai terapi tambahan pada kondisi tertentu. Justru inovasi yang baik membutuhkan penelitian yang baik agar manfaat sebenarnya tidak tenggelam di antara janji yang terlalu luas. Teknologi yang berguna tidak perlu diselamatkan oleh testimoni, karena bukti yang kuat akan berbicara lebih jernih.
Sejarah antibiotik telah memberi pelajaran bahwa penemuan besar baru bermanfaat ketika disertai disiplin ilmiah, pengawasan mutu, akses yang adil, dan sistem kesehatan yang bertanggung jawab. Bila streptomisin dahulu hanya dipasarkan kepada orang yang mampu membeli dan keberhasilannya dinilai dari kesaksian pasien, mungkin obat itu tetap laris. Namun, TB tidak akan terkendali, resistansi akan berkembang lebih cepat, dan mereka yang paling rentan akan tertinggal. Yang berhasil dijual mungkin produknya, tetapi masalah kesehatannya tetap hidup di tengah masyarakat.
