Menjaga Kesehatan Jantung Setelah Berhenti Menggunakan Napza
Berhenti menggunakan napza adalah langkah besar. Setelah itu, kesehatan jantung dan faktor risiko lain tetap perlu diperhatikan.

Perjalanan Pemulihan dan Risiko Penyakit Jantung yang Sering Terlupakan

Beberapa tahun belakangan ini saya semakin sering mendengar satu cerita yang sama di antara orang-orang yang pernah hidup dekat dengan komunitas pengguna napza suntik. Seseorang sudah lama berhenti menggunakan napza. Hidupnya sudah jauh lebih stabil. Ia bekerja, berkeluarga, menjalani pengobatan dengan baik, bahkan mungkin sudah puluhan tahun tidak pernah menyentuh napza lagi. Lalu, pada usia yang belum terlalu tua, datang kabar bahwa ia meninggal karena serangan jantung, gagal jantung, atau henti jantung mendadak.

Jika kejadian seperti ini hanya satu atau dua kali, mungkin mudah dianggap sebagai kebetulan. Tetapi ketika nama-nama itu mulai bertambah, muncul pertanyaan yang wajar. Mengapa orang yang sudah lama clean and sober masih meninggal akibat penyakit jantung? Apakah tubuh mereka masih menyimpan kerusakan dari masa lalu?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Berhenti menggunakan napza tetap merupakan keputusan yang sangat penting dan menyelamatkan nyawa. Risiko overdosis, infeksi, kecelakaan, kekerasan, dan berbagai komplikasi lain akan menurun secara bermakna. Namun, berhenti menggunakan napza tidak selalu berarti seluruh risiko kesehatan langsung kembali sama seperti orang yang tidak pernah menggunakannya.

Tubuh manusia menyimpan jejak perjalanan hidupnya. Tekanan darah yang tinggi selama bertahun-tahun, paparan rokok, infeksi HIV atau hepatitis C, peradangan kronis, kerusakan pembuluh darah, dan gangguan otot jantung dapat berkembang perlahan tanpa keluhan. Seseorang dapat terlihat sehat, tetap bekerja, bahkan masih aktif berolahraga, sementara proses penyakit berlangsung diam-diam.

Ada pula perubahan penting yang sering tidak disadari. Pada masa lalu, banyak pengguna napza suntik meninggal pada usia muda akibat overdosis, AIDS, hepatitis, infeksi berat, atau kecelakaan. Sekarang, semakin banyak yang dapat bertahan hidup karena pengobatan HIV jauh lebih baik, hepatitis C dapat disembuhkan, dan layanan adiksi lebih tersedia. Mereka akhirnya memasuki usia 50-an dan 60-an, saat penyakit jantung, kanker, diabetes, dan penyakit ginjal mulai lebih sering muncul.

Dengan kata lain, meningkatnya kematian akibat penyakit jantung juga merupakan bagian dari perubahan pola kehidupan. Orang-orang yang dahulu mungkin tidak sempat mencapai usia paruh baya kini hidup lebih lama. Ketika sebuah komunitas menua, penyebab kematiannya ikut berubah.

Hal ini terlihat dalam sebuah penelitian di Swedia yang mengikut sertakan 1.705 pengguna napza selama 37 tahun. Pada kelompok yang meninggal dalam usia muda, penyebab kematian lebih banyak berupa kecelakaan dan bunuh diri. Namun, pada mereka yang mencapai usia 55 tahun atau lebih, penyakit kardiovaskular dan kanker menjadi penyebab kematian yang semakin menonjol. Penelitian tersebut tidak berarti bahwa semua kematian jantung disebabkan langsung oleh napza, tetapi menunjukkan bahwa profil penyakit berubah ketika kelompok ini bertambah tua. Penelitian 37 tahun tersebut dapat dibaca di PubMed.

Penelitian lain yang mengikuti pengguna napza suntik selama 17 tahun juga menemukan pola serupa. Kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker meningkat ketika usia kelompok yang diamati semakin bertambah. Menariknya, peningkatan ini tidak sepenuhnya hanya dapat dijelaskan oleh HIV. Artinya, ada faktor-faktor lain yang bekerja bersama, termasuk rokok, jenis napza yang pernah digunakan, pola hidup, kondisi sosial, dan keterlambatan pemeriksaan penyakit kronis. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Addiction.

Jenis napza yang digunakan juga penting. Heroin atau opioid, misalnya, memiliki pola risiko yang berbeda dengan metamfetamin dan kokain. Stimulan seperti metamfetamin membuat sistem saraf simpatis bekerja keras. Denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, pembuluh darah menyempit, dan kebutuhan oksigen otot jantung bertambah.

Jika paparan seperti ini berlangsung berulang kali, otot jantung dapat mengalami peradangan dan fibrosis, semacam jaringan parut di dalam otot jantung. Pada sebagian orang, fungsi jantung dapat membaik setelah penggunaan metamfetamin dihentikan. Namun, bila jaringan parut sudah cukup luas, pemulihannya mungkin tidak sempurna. Bertahun-tahun kemudian, kondisi tersebut dapat muncul sebagai gagal jantung atau gangguan irama. Kajian mengenai kardiomiopati akibat metamfetamin menjelaskan proses ini secara lebih rinci.

Kokain juga dapat memengaruhi jantung melalui beberapa jalur sekaligus. Zat ini dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah, mempermudah pembentukan bekuan darah, dan memicu gangguan irama. Penggunaan berulang juga dikaitkan dengan perubahan struktur jantung dan percepatan penyakit pembuluh darah. Namun, penting untuk tetap berhati-hati. Riwayat penggunaan kokain tidak berarti bahwa setiap penyakit jantung puluhan tahun kemudian pasti disebabkan oleh kokain. Mekanisme kardiotoksisitas kokain dibahas dalam kajian ini.

Bagi generasi pengguna napza suntik di Indonesia, HIV merupakan bagian penting dari cerita ini. Banyak di antara mereka tertular HIV pada akhir 1990-an atau awal 2000-an, ketika penggunaan jarum suntik bergantian masih sering terjadi. Berkat terapi antiretroviral, HIV sekarang dapat dikendalikan dan orang dengan HIV dapat hidup panjang serta produktif.

Walaupun demikian, viral load yang tidak terdeteksi belum tentu menghapus seluruh risiko kardiovaskular. HIV dapat menyebabkan aktivasi sistem imun dan peradangan kronis tingkat rendah. Kondisi itu dapat memengaruhi dinding pembuluh darah dan mempercepat pembentukan plak. Risiko tersebut kemudian bertemu dengan faktor lain seperti usia, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit ginjal, dan rokok.

Secara umum, berbagai penelitian menemukan bahwa risiko penyakit kardiovaskular pada orang dengan HIV sekitar satu setengah hingga dua kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa HIV. Risiko setiap orang tentu berbeda. Seseorang dengan viral load tidak terdeteksi, tidak merokok, tekanan darah baik, dan kolesterol terkontrol akan memiliki risiko yang berbeda dengan seseorang yang memiliki beberapa faktor risiko sekaligus. American Heart Association membahas hubungan HIV dan penyakit kardiovaskular dalam pernyataan ilmiahnya.

Hepatitis C juga perlu diperhitungkan. Banyak orang pernah menjalani tes antibodi hepatitis C dan mendapatkan hasil positif, tetapi tidak mengetahui apakah virusnya masih aktif. Pemeriksaan antibodi hanya menunjukkan bahwa tubuh pernah terpapar. Untuk memastikan apakah infeksi masih berlangsung, diperlukan pemeriksaan HCV RNA.

Hepatitis C bukan hanya masalah hati. Infeksi kronis berkaitan dengan peradangan sistemik, gangguan metabolisme gula, penyakit ginjal, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Kabar baiknya, hepatitis C sekarang dapat disembuhkan dengan obat antivirus kerja langsung. Sebuah meta-analisis terhadap lebih dari 53.000 pasien menemukan bahwa keberhasilan pengobatan hepatitis C berhubungan dengan penurunan risiko kejadian kardiovaskular. Meta-analisis tersebut tersedia di PubMed.

Ada satu faktor yang mungkin jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan, yaitu rokok. Banyak orang berhasil berhenti menggunakan heroin atau metamfetamin, tetapi tetap merokok. Karena rokok dianggap lebih biasa dan tidak menimbulkan perubahan perilaku secepat napza lain, risikonya sering ditempatkan di urutan belakang.

Padahal, rokok bekerja perlahan selama bertahun-tahun. Ia merusak dinding pembuluh darah, meningkatkan pembentukan plak dan bekuan darah, serta memperbesar risiko serangan jantung, stroke, kanker, dan penyakit paru kronis. Seseorang mungkin sudah berhenti menggunakan napza selama 20 tahun, tetapi pada saat yang sama telah mengumpulkan paparan rokok selama 30 atau 40 tahun.

Sebuah penelitian di Inggris terhadap lebih dari 100.000 orang yang menggunakan opioid ilegal memperkirakan bahwa hampir seperempat kematian prematur dalam kelompok tersebut berkaitan dengan rokok. Angkanya hampir sama besarnya dengan kematian yang dihubungkan dengan penggunaan napza ilegal. Ini menunjukkan bahwa layanan pemulihan seharusnya tidak berhenti pada upaya mencegah penggunaan napza kembali. Dukungan berhenti merokok juga perlu menjadi bagian penting dari pemulihan jangka panjang. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Addiction.

Riwayat infeksi katup jantung atau endokarditis juga dapat meninggalkan masalah. Bakteri yang masuk ke dalam aliran darah melalui proses penyuntikan dapat menempel pada katup jantung. Setelah infeksinya sembuh, katup mungkin tidak kembali sepenuhnya normal. Sebagian orang mengalami kebocoran katup, pembesaran ruang jantung, gangguan aliran darah, atau peningkatan tekanan pada pembuluh darah paru.

Masalah tersebut kadang tidak langsung menimbulkan gejala berat. Tubuh mampu beradaptasi selama bertahun-tahun, sampai akhirnya kemampuan kompensasinya menurun. Barulah muncul sesak napas, kaki bengkak, cepat lelah, jantung berdebar, atau gagal jantung. Penelitian pada orang dengan riwayat penggunaan napza suntik yang pernah mengalami endokarditis menunjukkan bahwa risiko kesehatan jangka panjang tetap tinggi, termasuk setelah menjalani operasi katup. Namun, hasil penelitian ini juga dipengaruhi oleh reinfeksi dan penggunaan napza kembali, sehingga tidak semuanya dapat dianggap sebagai akibat kerusakan lama pada orang yang sudah abstinen. Penelitian mengenai perjalanan jangka panjang setelah endokarditis dapat dibaca di Clinical Infectious Diseases.

Masalah lain adalah pelayanan kesehatan yang sering terpecah-pecah. Selama bertahun-tahun, perhatian terhadap mantan pengguna napza suntik lebih banyak diarahkan pada HIV, hepatitis, tuberkulosis, kesehatan jiwa, dan risiko kekambuhan. Semua itu memang penting. Namun, tekanan darah, kolesterol, diabetes, berat badan, fungsi ginjal, dan kesehatan jantung kadang tidak mendapat perhatian yang sama. Ini merupakan salah satu peluang yang dimiliki Indonesia saat ini yang tengah gencar menggiatkan integrasi layanan primer (ILP) dan cek kesehatan gratis (CKG) agar kelompok ini tidak luput dari sasaran dan tidak mengkotak-kotakkan populasi.

Stigma juga dapat membuat seseorang enggan datang ke fasilitas kesehatan. Ada yang pernah merasa dihakimi, tidak dipercaya ketika mengeluh nyeri, atau diperlakukan berbeda hanya karena riwayat penggunaan napza tertulis dalam rekam medis. Pengalaman seperti ini membuat sebagian orang baru mencari pertolongan ketika penyakit sudah cukup berat. Karena itu, pelayanan kesehatan yang tidak menghakimi bukan sekadar persoalan keramahan. Sikap tenaga kesehatan dapat menentukan apakah seseorang mau datang untuk pemeriksaan lebih awal atau memilih menunggu.

Istilah “meninggal karena jantung” sendiri sebenarnya sangat luas. Serangan jantung, gagal jantung, gangguan irama, penyakit katup, infeksi jantung, emboli, dan henti jantung mendadak merupakan kondisi yang berbeda. Henti jantung juga merupakan cara seseorang meninggal, bukan selalu diagnosis penyakit yang mendasarinya. Tanpa informasi medis yang lebih lengkap, sulit menyimpulkan penyebab sebenarnya hanya dari kabar bahwa seseorang meninggal karena jantung.

Karena itu, tidak tepat jika semua kematian tersebut langsung dikaitkan dengan masa lalu seseorang. Orang yang tidak pernah menggunakan napza pun dapat mengalami serangan jantung pada usia muda. Sebaliknya, riwayat penggunaan napza juga tidak boleh diabaikan karena dapat membantu dokter memahami kemungkinan risiko yang perlu diperiksa.

Yang dibutuhkan adalah perhatian terhadap kesehatan yang lebih menyeluruh. Sekali lagi ini merupakan peluang dalam ILP. Orang dengan riwayat penggunaan napza suntik sebaiknya mendapat pemeriksaan tekanan darah, gula darah, profil kolesterol, fungsi ginjal, status hepatitis C, serta pemantauan HIV secara teratur. Riwayat nyeri dada, sesak, pingsan, jantung berdebar, endokarditis, penggunaan stimulan, dan riwayat keluarga juga perlu ditanyakan. Pemeriksaan elektrokardiogram atau ekokardiografi tidak harus dilakukan kepada semua orang, tetapi dapat dipertimbangkan berdasarkan gejala dan riwayat klinis.

Berhenti menggunakan napza tidak pernah sia-sia. Setiap satu tahun tanpa penggunaan napza memberi tubuh satu step kesempatan untuk pulih dan mengurangi banyak risiko kematian. Hanya saja, pemulihan tidak berhenti pada keberhasilan menjadi clean and sober. Pemulihan juga berarti merawat kesehatan yang mungkin selama ini terabaikan, mengobati HIV dan hepatitis C, berhenti merokok, mengendalikan tekanan darah dan kolesterol, bergerak lebih aktif, serta membangun hubungan yang nyaman dengan layanan kesehatan.

Mereka yang berhasil melewati masa-masa sulit penggunaan napza bukan orang yang kalah oleh masa lalunya. Justru sebaliknya, mereka adalah penyintas dari sebuah periode yang sangat berat, termasuk masa ketika HIV belum mudah diobati dan layanan pengurangan dampak buruk belum tersedia luas. Kini, tugas berikutnya adalah memastikan mereka tidak hanya hidup lebih lama, tetapi juga hidup lebih sehat.

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan, “Mengapa masa lalu masih mengejar mereka?” Pertanyaannya adalah, “Apakah sistem kesehatan sudah cukup memperhatikan kebutuhan mereka setelah berhasil bertahan selama puluhan tahun?” Sebab setelah seseorang berhasil keluar dari risiko overdosis dan AIDS, ia tidak seharusnya dibiarkan menghadapi hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau penyakit jantung seorang diri.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang dengan riwayat penggunaan napza agar risiko penyakit jantung dapat ditekan? Tidak ada pemeriksaan tunggal yang dapat menjamin seseorang terbebas dari serangan jantung. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang jauh lebih bermanfaat daripada sekadar menjalani pemeriksaan canggih tanpa alasan yang jelas.

Pertama, lakukan pemeriksaan kesehatan dasar secara rutin, meskipun tidak ada keluhan. Datanglah ke Puskesmas untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar yang komprehemsif, terlebih di era ILP saat ini. Tekanan darah, berat badan, lingkar perut, gula darah atau HbA1c, profil kolesterol, serta fungsi ginjal perlu diperiksa. Banyak orang merasa sehat karena tidak mengalami nyeri dada atau sesak, padahal hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi dapat berkembang bertahun-tahun tanpa gejala. Seberapa sering pemeriksaan dilakukan bergantung pada usia dan hasil sebelumnya, tetapi setidaknya perlu ada evaluasi berkala bersama dokter.

Kedua, ceritakan riwayat penggunaan napza kepada dokter secara terbuka, termasuk jenis zat yang pernah digunakan. Riwayat heroin, metamfetamin, kokain, penggunaan beberapa zat sekaligus, endokarditis, overdosis, atau penggunaan metadon dapat memiliki makna klinis yang berbeda. Informasi ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menentukan pemeriksaan yang benar-benar diperlukan. Tenaga kesehatan juga harus mampu menerima cerita tersebut dengan sikap profesional dan menjaga kerahasiaan pasien.

Ketiga, jangan menganggap semua orang harus menjalani CT scan jantung, treadmill, atau ekokardiografi. Pemeriksaan tersebut berguna bila ada indikasi, bukan sebagai paket wajib bagi setiap orang dengan riwayat penggunaan napza. Elektrokardiogram dapat dipertimbangkan bila ada jantung berdebar, pingsan, nyeri dada, penggunaan metadon, atau riwayat pemakaian stimulan. Ekokardiografi lebih relevan bila terdapat sesak, kaki bengkak, suara jantung yang tidak normal, riwayat endokarditis, atau dugaan kerusakan otot maupun katup jantung.

Keempat, bila hidup dengan HIV, minum obat antiretroviral secara teratur dan pertahankan viral load tidak terdeteksi. Pengendalian HIV tetap menjadi bagian penting dari perlindungan jantung karena replikasi virus dan peradangan yang tidak terkendali dapat menambah risiko kardiovaskular. Pemeriksaan kolesterol dan risiko penyakit jantung juga perlu menjadi bagian dari kunjungan rutin, bukan hanya pemeriksaan CD4 dan viral load.

Bagi orang dengan HIV berusia 40 sampai 75 tahun, penggunaan obat penurun kolesterol atau statin sekarang semakin dipertimbangkan untuk mencegah penyakit kardiovaskular, termasuk pada mereka yang sebelumnya dianggap memiliki risiko rendah sampai sedang. Penelitian REPRIEVE menemukan bahwa pitavastatin menurunkan kejadian kardiovaskular utama sekitar 35 persen pada orang dengan HIV yang mendapat terapi antiretroviral. Namun, statin harus dipilih bersama dokter karena jenis dan dosisnya perlu disesuaikan dengan kadar kolesterol, risiko masing-masing orang, kondisi hati dan ginjal, serta kemungkinan interaksi dengan obat HIV. Statin maupun aspirin tidak sebaiknya dimulai sendiri. Hasil penelitian REPRIEVE dapat dibaca di The New England Journal of Medicine, sedangkan rekomendasi penggunaan statin pada orang dengan HIV tersedia di ClinicalInfo HIV.gov.

Kelima, pastikan status hepatitis C sudah jelas. Hasil antibodi hepatitis C yang positif tidak dapat memastikan apakah virus masih aktif. Orang yang pernah terpapar perlu menjalani pemeriksaan HCV RNA. Jika virus masih ditemukan, hepatitis C sekarang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang relatif singkat. Kesembuhan bukan hanya melindungi hati, tetapi juga dapat membantu menurunkan risiko berbagai komplikasi di luar hati, termasuk penyakit kardiovaskular.

Keenam, berhenti merokok mungkin menjadi salah satu langkah paling besar manfaatnya. Berhenti menggunakan heroin atau metamfetamin adalah pencapaian penting, tetapi risiko kesehatan tetap tinggi bila rokok terus digunakan. Tidak harus mengandalkan tekad semata. Konseling, terapi pengganti nikotin, dan obat berhenti merokok dapat meningkatkan kemungkinan berhasil. Bila belum berhasil pada percobaan pertama, itu bukan kegagalan. Ketergantungan nikotin memang sering memerlukan beberapa kali percobaan.

Ketujuh, mulai bergerak secara bertahap. Tidak perlu langsung berlari atau mengikuti olahraga berat. Jalan cepat selama 20 sampai 30 menit, bersepeda, berenang, atau aktivitas lain yang disukai sudah memberikan manfaat bila dilakukan teratur. WHO menganjurkan orang dewasa melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang selama 150 sampai 300 menit per minggu, ditambah latihan kekuatan setidaknya dua kali seminggu. Bagi orang yang sudah lama tidak berolahraga, memiliki nyeri dada, mudah sesak, sering berdebar, atau pernah mengalami penyakit jantung, mulailah setelah berkonsultasi dengan dokter. Rekomendasi aktivitas fisik dapat dibaca di situs WHO.

Kedelapan, perhatikan makanan, berat badan, tidur, dan kesehatan mental. Tidak diperlukan diet yang mahal. Kurangi makanan ultra-proses, minuman manis, garam berlebihan, dan lemak trans. Perbanyak sayuran, buah, kacang-kacangan, ikan, serta sumber protein yang tidak banyak mengandung lemak jenuh. Tidur yang cukup juga penting karena gangguan tidur dan sleep apnea dapat meningkatkan tekanan darah serta membebani jantung.

Kesehatan mental tidak boleh dipisahkan dari kesehatan jantung. Depresi, kecemasan, pengalaman traumatis, kesepian, dan tekanan ekonomi dapat membuat seseorang lebih sulit minum obat secara teratur, berhenti merokok, berolahraga, atau datang ke fasilitas kesehatan. Dukungan keluarga, kelompok sebaya, konselor, dan tenaga kesehatan jiwa dapat membantu. Bila sewaktu-waktu terjadi kekambuhan penggunaan napza, carilah pertolongan secepatnya. Kekambuhan tidak menghapus seluruh proses pemulihan yang sudah dijalani dan tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh dari layanan kesehatan.

Terakhir, kenali tanda bahaya. Nyeri atau rasa tertekan di tengah dada, nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher atau rahang, sesak mendadak, keringat dingin, mual, pingsan, atau jantung berdebar disertai lemas berat harus dinilai segera. Jangan menunggu sampai keluhan hilang sendiri dan jangan berasumsi bahwa gejala itu hanya masuk angin atau kecemasan. Pada serangan jantung dan gangguan irama berat, waktu sangat menentukan. Tanda-tanda serangan jantung dijelaskan oleh American Heart Association.

Semua langkah ini tidak dapat menghapus masa lalu dan tidak dapat menjamin seseorang tidak akan pernah terkena penyakit jantung. Tujuannya sangat realistis, yaitu menemukan masalah lebih awal, mengendalikan faktor risiko, dan mencegah penyakit berkembang tanpa disadari. Riwayat penggunaan napza seharusnya menjadi informasi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, bukan label yang membuat seseorang menerima pelayanan yang lebih buruk.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply