Coba sekarang Anda bayangkan Anda tinggal di Eropa sekitar lima ratus tahun yang lalu. Suatu hari Anda jatuh dari kuda, tubuh memar, kepala terasa berat, dan luka di tangan tidak kunjung mengering. Seorang tabib datang membawa bubuk berwarna cokelat kehitaman. Katanya, bubuk itu berasal dari tubuh mumi Mesir yang sudah berusia ribuan tahun. Semakin tua muminya, semakin kuat pula khasiat yang dipercaya terkandung di dalamnya.
Bubuk tersebut bisa dicampurkan ke dalam minuman, ditelan, atau dioleskan pada bagian tubuh yang sakit. Namanya mumia, kadang disebut juga mummia atau mumia vera aegyptiaca. Orang menggunakannya untuk mengatasi luka, memar, sakit kepala, perdarahan, gangguan pencernaan, bahkan penyakit yang jauh lebih berat. Mungkin bagi kita sekarang terdengar menjijikkan sekaligus tidak masuk akal. Namun, selama beberapa abad, bubuk mumi benar-benar menjadi bagian dari pengobatan di Eropa.
Kisahnya bermula dari sebuah kekeliruan yang kemudian berkembang menjadi bisnis besar. Dalam pengobatan Persia dan Arab, istilah mūmiyā semula merujuk pada bitumen, bahan mineral hitam menyerupai aspal yang digunakan untuk membantu menangani luka, memar, dan patah tulang. Ketika manuskrip kedokteran Arab diterjemahkan ke bahasa Latin, istilah tersebut dikaitkan dengan bahan hitam yang ditemukan pada tubuh mumi Mesir. Maknanya perlahan bergeser, dari bitumen menjadi bahan pengawet mumi, lalu akhirnya menjadi tubuh mumi itu sendiri.
Sejak sekitar abad ke-12, orang Eropa mulai mengonsumsi bagian tubuh mumi sebagai obat. Catatan mengenai praktik tersebut dapat ditemukan dalam kajian sejarah kedokteran tentang penggunaan mumi sebagai obat. Mumi yang sebelumnya disimpan di dalam makam sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat Mesir kuno, berubah menjadi komoditas. Makam dibongkar, jenazah diambil, lalu bagian tubuhnya dikirim ke toko obat di berbagai kota Eropa.
Permintaan yang tinggi segera menimbulkan masalah baru. Mumi Mesir asli tidak tersedia dalam jumlah tak terbatas. Ketika pasokan mulai sulit memenuhi permintaan, muncullah mumi palsu. Jenazah orang yang baru meninggal dikeringkan, diberi resin dan bahan berwarna gelap, lalu dijual seolah-olah merupakan mumi berusia ribuan tahun.
Sumber jenazahnya pun tidak selalu jelas. Ada cerita mengenai mayat gelandangan, orang miskin, pengemis, budak, dan terpidana mati yang diambil lalu diolah menjadi bahan obat. Ahli bedah Prancis Ambroise Paré pernah menulis tentang pedagang yang mengeringkan jenazah dan menjualnya sebagai mumi. Science History Institute mencatat bahwa ketika mumi asli semakin sulit diperoleh, jenazah biasa mulai dipasarkan sebagai obat mumi. Akhirnya pembeli bahkan tidak terlalu peduli apakah bubuk yang mereka konsumsi benar-benar berasal dari mumi Mesir atau bukan.
Pertanyaannya, mengapa orang percaya?
Jawaban paling sederhana mungkin karena banyak orang merasa sembuh setelah menggunakannya. Seseorang mengalami memar, kemudian mengoleskan bubuk mumi. Beberapa hari kemudian memarnya menghilang. Orang lain mengalami demam atau sakit perut, lalu meminum ramuan yang mengandung mumia. Tidak lama kemudian ia merasa lebih baik.
Dari sudut pandang orang yang mengalaminya, urutannya tampak sangat jelas. Sebelum menggunakan mumi, ia sakit. Setelah menggunakannya, ia sembuh. Maka, kesimpulannya kelihatannya masuk akal: mumi itulah yang menyembuhkan.
Padahal, banyak penyakit memang akan membaik dengan sendirinya. Sebagian besar infeksi virus ringan, memar, nyeri otot, sakit kepala tertentu, serta gangguan pencernaan ringan tidak memerlukan obat khusus. Tubuh mempunyai sistem imun dan mekanisme perbaikan sendiri. Dengan istirahat, cairan yang cukup, makanan, pengendalian demam atau nyeri, dan waktu, kebanyakan orang akan pulih.
Masalahnya, orang biasanya mencari pengobatan ketika gejalanya sedang berada pada titik terburuk. Setelah mencapai puncak, keluhan secara alamiah mulai berkurang. Karena perbaikan itu terjadi setelah seseorang minum atau mengoleskan sesuatu, produk tersebut kemudian mendapat pujian. Padahal, tanpa produk itu pun, kemungkinan besar perjalanan penyakitnya akan sama.
Dalam kedokteran, kita mengenal fenomena regression to the mean. Istilahnya memang terdengar sedikit complicated, tetapi maksudnya sederhana. Kondisi yang sedang sangat buruk sering kali akan bergerak kembali mendekati keadaan rata-rata. Jika pengobatan diberikan tepat ketika keluhan berada pada puncaknya, hampir semua yang dilakukan sesudah itu bisa terlihat seperti penyebab kesembuhan.
Di sinilah testimonial menjadi sangat kuat. Cerita seorang pasien yang sembuh memiliki wajah, suara, dan emosi. “Saya sudah tiga hari tidak bisa bangun. Setelah minum ramuan ini, besoknya saya bisa bekerja lagi.” Cerita seperti itu jauh lebih mudah dipercaya daripada tabel penelitian yang dipenuhi angka, persentase, dan istilah statistik dengan odds ratio.
Apalagi jika kesaksian datang dari orang terkenal. Raja François I dari Prancis dikabarkan membawa campuran mumi dan rhubarb untuk digunakan jika mengalami cedera. Robert Boyle, salah seorang tokoh penting dalam sejarah kimia, juga pernah memuji penggunaan mumia untuk luka akibat jatuh dan memar. Jika seorang raja, ilmuwan, atau tabib kerajaan menggunakannya, masyarakat tentu semakin yakin dong.
Tidak banyak yang bertanya berapa orang yang menggunakan bubuk mumi tetapi tidak sembuh. Tidak diketahui pula berapa pasien yang mengalami komplikasi atau meninggal sesudah memakainya. Kasus yang berhasil akan diceritakan berulang kali, sedangkan kegagalan perlahan dilupakan. Bahkan ketika pasien tidak membaik, selalu tersedia penjelasan: muminya mungkin palsu, dosisnya kurang, cara mengolahnya salah, atau penyakit pasien sudah terlalu berat.
Dengan cara berpikir seperti itu, suatu pengobatan hampir tidak mungkin dinyatakan gagal. Jika pasien sembuh, obatnya dianggap manjur. Jika pasien tidak sembuh, yang dipersalahkan adalah pasien, dosis, atau mutu produknya. Produk itu sendiri selalu lolos dari pemeriksaan.
Ambroise Paré termasuk orang yang akhirnya mempertanyakan kebiasaan tersebut. Ia mengaku telah memberikan mumia berkali-kali kepada pasien, tetapi tidak melihat manfaat yang meyakinkan. Ia kemudian menentang penggunaannya dan menganggapnya sebagai obat yang tidak berguna, bahkan berpotensi membahayakan. Akan tetapi, pendapat seorang dokter yang berkata “obat ini ternyata tidak bekerja” tentu kalah menarik dibandingkan cerita seseorang yang mengaku sembuh secara ajaib.
Ratusan tahun telah berlalu. Kita tidak lagi membeli bubuk mumi di apotek. Namun, cara manusia menarik kesimpulan ternyata tidak banyak berubah.
Hari ini kita masih menemukan berbagai produk yang diklaim dapat meningkatkan daya tahan tubuh, membersihkan racun, memperbaiki metabolisme, menyembuhkan infeksi, atau mengatasi penyakit kronis. Buktinya sering kali bukan penelitian yang baik, melainkan rangkaian testimonial. Ada foto sebelum dan sesudah, kisah pasien yang merasa lebih sehat, serta video tokoh terkenal yang mengaku rutin menggunakannya.
Tentu saja, orang yang memberikan testimonial belum tentu berbohong. Ia benar-benar sakit dan kemudian benar-benar sembuh. Yang belum terbukti adalah apakah kesembuhan itu disebabkan oleh produk yang digunakannya. Bisa saja penyakitnya memang akan membaik sendiri. Bisa pula ia secara bersamaan mendapat pengobatan lain, memperbaiki pola makan, lebih banyak beristirahat, atau hanya kebetulan berada pada fase ketika gejalanya mulai mereda.
Karena itulah penelitian klinis membutuhkan kelompok pembanding. Misalnya, 85 dari 100 orang sembuh setelah menggunakan suatu obat. Angka itu terlihat mengesankan. Namun, jika ternyata 87 dari 100 orang yang hanya mendapat terapi suportif juga sembuh dalam waktu yang sama, obat tadi sebenarnya tidak memberi manfaat tambahan.
Kelompok pembanding membantu menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh testimonial: apa yang akan terjadi jika pengobatan itu tidak diberikan? Tanpa pembanding, kita hanya mengetahui bahwa kesembuhan terjadi setelah terapi. Kita belum mengetahui apakah kesembuhan terjadi karena terapi.
Cara berpikir yang sama ikut memengaruhi perdebatan tentang vaksin. Bahkan, vaksin menghadapi tantangan yang lebih sulit karena keberhasilannya tidak terlihat. Orang yang tidak terkena campak, polio, difteri, kanker serviks, atau COVID-19 berat setelah mendapatkan vaksin biasanya tidak mempunyai cerita dramatis. Ia hanya menjalani hidup seperti biasa.
Sebaliknya, ketika seseorang mengalami keluhan setelah vaksinasi, ceritanya sangat mudah dibentuk. Sebelum divaksin ia merasa sehat. Beberapa hari atau minggu kemudian ia sakit. Maka, vaksin langsung dianggap sebagai penyebabnya.
Kejadian itu sendiri tentu tidak boleh diabaikan. Vaksin, sebagaimana obat dan tindakan medis lain, dapat menimbulkan efek samping. Karena itu, keamanan vaksin harus terus dipantau, baik dalam uji klinis maupun setelah digunakan secara luas. Namun, kejadian setelah imunisasi tidak otomatis berarti kejadian akibat imunisasi.
Setiap hari, ada orang yang mengalami demam, kejang, serangan jantung, stroke, keguguran, penyakit autoimun, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Ketika jutaan orang divaksinasi, secara statistik sebagian peristiwa tersebut pasti terjadi beberapa hari atau minggu setelah vaksinasi, meskipun vaksin tidak menjadi penyebabnya. Pedoman WHO mengenai pemantauan keamanan imunisasi karena itu membedakan hubungan waktu dengan hubungan sebab-akibat.
Untuk menentukan apakah suatu kejadian benar-benar berhubungan dengan vaksin, peneliti perlu melihat lebih jauh. Apakah kasus tersebut terjadi lebih sering pada orang yang divaksinasi dibandingkan angka normal dalam populasi? Apakah pola waktunya konsisten? Apakah terdapat mekanisme biologis yang masuk akal? Apakah temuan serupa terlihat di setting negara lain dan dalam sistem pemantauan yang berbeda?
Satu testimonial tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Uji klinis, penelitian epidemiologi, dan sistem pemantauan keamanan diperlukan bukan untuk meniadakan pengalaman seseorang, melainkan untuk menempatkannya dalam konteks. Pengalaman pasien tetap nyata dan perlu diperiksa. Namun, kesimpulan mengenai penyebab tidak bisa hanya didasarkan pada urutan “setelah itu, maka karena itu”.
Masalahnya, kesimpulan ilmiah jarang sesederhana sebuah testimonial. Ilmu pengetahuan mungkin mengatakan bahwa risiko suatu efek samping adalah sekian kasus per seratus ribu dosis, sedangkan manfaat vaksin bergantung pada usia, kondisi kesehatan, dan tingkat penularan penyakit. Penjelasan seperti itu lebih jujur, tetapi tidak selalu mudah dicerna. Testimonial cukup mengatakan, “Anak saya berubah setelah divaksin.” Secara emosional, satu kalimat itu bisa terasa lebih kuat daripada hasil penelitian terhadap jutaan orang.
Hal serupa terjadi pada orang yang menolak vaksin tetapi tetap sehat. Pengalamannya kemudian dianggap sebagai bukti bahwa vaksin tidak diperlukan. Padahal, ia mungkin terlindungi karena sebagian besar orang di sekitarnya sudah divaksinasi, penyakitnya sedang tidak banyak beredar, atau ia memang belum pernah terpapar. Satu orang yang selamat tanpa vaksin tidak membuktikan bahwa vaksin tidak bermanfaat, sebagaimana satu orang yang sembuh setelah menelan bubuk mumi tidak membuktikan bahwa mumi adalah obat.
Cara tenaga kesehatan merespons juga penting. Menertawakan atau mempermalukan orang yang ragu terhadap vaksin biasanya tidak menyelesaikan masalah. Jika seseorang membawa cerita tentang anggota keluarganya yang sakit setelah imunisasi, lalu dijawab hanya dengan “vaksin aman”, ia dapat merasa pengalamannya diabaikan. WHO sendiri menekankan pentingnya mendengarkan kekhawatiran masyarakat dan membangun kepercayaan ketika berkomunikasi tentang vaksin.
Kita dapat mengakui bahwa peristiwanya benar-benar terjadi, sekaligus menjelaskan bahwa penyebabnya masih harus dinilai. Keterbukaan juga berarti mengakui bahwa vaksin tidak seratus persen bebas risiko. Namun, keputusan kesehatan yang baik tidak dibuat dengan membandingkan “ada risiko” dan “tidak ada risiko”. Yang dibandingkan adalah risiko vaksin dengan risiko penyakit jika seseorang tidak mendapat perlindungan.
Pelajaran dari bubuk mumi bukan bahwa manusia pada zaman dahulu bodoh. Pada masa itu mereka bekerja dengan pengetahuan, kepercayaan, dan alat pembuktian yang tersedia pada jaman itu. Mereka melihat orang sakit, memberikan sesuatu, lalu menyaksikan pasien membaik. Tanpa kelompok kontrol dan metode penelitian yang baik, kesimpulan bahwa mumi menyembuhkan memang terasa masuk akal, …..sekali lagi pada jaman itu.
Kita sekarang memiliki keuntungan yang tidak mereka miliki. Kita memahami perjalanan alamiah penyakit, efek plasebo, angka kejadian dasar, kelompok kontrol, serta perbedaan antara hubungan waktu dan hubungan sebab-akibat. Kita memiliki uji klinis, penelitian epidemiologi, laboratorium, dan sistem pemantauan efek samping. Seharusnya, kita tidak lagi hanya bergantung pada siapa yang paling lantang memberikan kesaksian.
Testimonial tetap berguna untuk mendengarkan pengalaman manusia. Namun, testimonial bukan alat yang cukup untuk menentukan apakah suatu pengobatan bekerja atau apakah vaksin menyebabkan suatu penyakit. Cerita dapat menunjukkan pertanyaan yang perlu diteliti. Jawabannya tetap harus dicari melalui pembandingan yang adil dan bukti yang dapat diperiksa.
Hari ini kita menertawakan orang Eropa yang meminum bubuk jenazah karena percaya mumi dapat menyembuhkan penyakit. Mereka mungkin juga memiliki ribuan testimonial, tokoh terkenal yang mendukung, dan penjual yang bersumpah produknya asli. Semua itu terasa meyakinkan pada zamannya, sampai ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kesembuhan pasien bukanlah bukti khasiat bubuk mumi.
Tentunya kita tidak ingin, ratusan tahun dari sekarang, generasi cucu-cicit-canggah kita mengenang sebagian keyakinan kesehatan kita dengan bertanya sambil tersenyum heran, “Kok dahulu orang bisa percaya hal konyol begitu, ya?”
