Kalau ada yang digigit ular, hal pertama yang biasanya muncul adalah panik. Wajar saja. Sejak masih kecil, kita sudah dicekokin dengan ajaran bahwa ular adalah hewan berbahaya. Dalam cerita rakyat, film, sinetron, berita, atau pengalaman sehari-hari, ular sering digambarkan sebagai hewan yang mematikan. Maka ketika ada yang digigit ular, korban atau keluarga korban biasanya langsung berpikir satu hal: harus segera diberi serum antibisa.
Anggapan ini bisa dimaklumi. Tidak ada keluarga yang ingin mengambil risiko. Tidak ada orang yang mau menunggu sampai kondisi korban memburuk. Apalagi kalau gigitan terjadi di desa, kebun, sawah, hutan, atau daerah yang jauh dari rumah sakit atau puskesmas. Dalam suasana seperti itu, orang mudah mengambil kesimpulan bahwa serum antibisa adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan korban.

Padahal, dalam ilmu kedokteran, cara berpikirnya tidak sesederhana itu. Serum antibisa memang bisa menyelamatkan nyawa. Pada kasus gigitan ular berbisa yang benar-benar menyebabkan keracunan, serum antibisa adalah terapi yang sangat penting. WHO menyebut antivenom sebagai pengobatan paling efektif untuk mencegah atau membalikkan sebagian besar dampak akibat bisa ular. Namun, ini tidak berarti bahwa setiap orang yang digigit ular otomatis harus diberi serum antibisa.
Di sinilah masyarakat sering salah paham. Banyak orang mengira pilihannya hanya dua. Kalau ular tidak berbisa, tidak perlu serum. Kalau ular berbisa, harus diberi serum. Sepintas memang terdengar logis. Tetapi tubuh manusia dan cara ular menggigit tidak selalu bekerja dengan pola sesederhana itu.
Dalam kenyataan, setelah seseorang digigit ular, ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin saja ular yang menggigit memang tidak berbisa. Atau juga ular yang menggigit adalah ular berbisa, tetapi tidak menyuntikkan bisa. Ini disebut dry bite atau gigitan kering. Kemungkinan lain ular menyuntikkan bisa, tetapi jumlahnya sedikit sehingga gejalanya ringan dan tidak berkembang. Baru pada keadaan tertentu, ketika bisa ular benar-benar masuk dan menimbulkan gangguan pada tubuh, pasien dikatakan mengalami envenomasi.
Kata āenvenomasiā mungkin terdengar sangat medis, tetapi sebenarnya artinya sederhana. Envenomasi berarti tubuh sudah terkena dampak bisa ular. Jadi bukan hanya ada bekas gigitan, bukan hanya ada dua titik seperti bekas taring, dan bukan hanya karena orang melihat ular yang menggigit terlihat berbisa. Yang dinilai adalah apakah bisa ular sudah menimbulkan masalah pada tubuh korban.
Masalah itu bisa bermacam-macam. Pada sebagian orang, area gigitan membengkak makin luas. Bengkaknya tidak hanya sedikit di sekitar luka, tetapi bergerak naik ke tangan, lengan, kaki, atau paha. Pada orang lain, muncul memar, lepuh, nyeri hebat, atau jaringan sekitar luka tampak rusak. Ada juga bisa ular yang menyerang sistem pembekuan darah sehingga korban mengalami gusi berdarah, mimisan, muntah darah, kencing berdarah, atau darah sulit membeku. Pada jenis ular tertentu, bisa dapat menyerang saraf. Tandanya bisa berupa kelopak mata turun, bicara menjadi pelo, sulit menelan, pandangan kabur, lemas, sampai sulit bernapas. Pada kasus berat, korban bisa mengalami syok, gagal ginjal, atau gangguan napas yang mengancam nyawa.
Jadi, pertanyaan penting setelah seseorang digigit ular bukan hanya āularnya berbisa atau tidak?ā Pertanyaan yang lebih penting adalah āapakah sudah terjadi envenomasi?ā Kalau belum ada tanda envenomasi, dokter bisa saja memilih observasi lebih dulu. Ini bukan berarti pasien diabaikan. Justru observasi adalah bagian penting dari penanganan gigitan ular. Pasien dipantau, pembengkakan dilihat apakah bertambah, tanda saraf diperiksa, tekanan darah dinilai, dan bila perlu dilakukan pemeriksaan darah. Kajian tentang dry bite juga menekankan bahwa pasien tetap perlu diobservasi karena pada sebagian kasus, gangguan seperti darah yang tidak membeku dapat muncul beberapa jam setelah gigitan, meskipun awalnya tampak baik.
Di masyarakat, keputusan untuk tidak langsung memberi serum kadang dianggap aneh. Keluarga korban bisa berpikir dan marah-marah, āLho, ini digigit ular. Kenapa tidak segera diberi serum?ā Bahkan kadang muncul kecurigaan bahwa fasilitas kesehatan tidak punya obat, lambat bertindak, atau tidak menganggap serius keadaan korban. Padahal, secara medis, serum antibisa memang tidak diberikan hanya karena seseorang digigit ular. Serum diberikan bila ada alasan klinis yang jelas.
Mengapa tidak diberikan saja kepada semua orang agar aman? Jawabannya karena serum antibisa bukan vitamin. Serum antibisa adalah produk biologis. Banyak serum dibuat dari antibodi hewan, misalnya kuda atau domba, yang sebelumnya dipaparkan pada bisa ular tertentu. Antibodi itulah yang kemudian diproses untuk membantu menetralkan bisa ular di tubuh manusia. WHO menjelaskan bahwa antivenom bekerja melalui antibodi yang dapat berikatan dengan komponen bisa ular sehingga membantu tubuh mengeliminasi racun tersebut. Karena berasal dari produk biologis, serum antibisa tetap memiliki risiko efek samping. Sebagian reaksi bisa ringan, seperti gatal, ruam, demam, atau menggigil. Tetapi reaksi yang lebih berat juga bisa terjadi, termasuk anafilaksis. Kajian medis tentang antivenom mencatat bahwa reaksi akut, termasuk reaksi anafilaksis berat, dapat terjadi setelah pemberian antivenom, walaupun obat ini tetap sangat penting bila memang ada envenomasi.
Maka dokter harus menimbang manfaat dan risiko. Bila pasien jelas mengalami envenomasi, manfaat serum jauh lebih besar daripada risikonya. Dalam keadaan seperti ini, serum bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan. Tetapi bila pasien tidak mengalami envenomasi, pemberian serum justru bisa membuat pasien menerima risiko yang tidak perlu. Selain itu, serum antibisa tidak selalu tersedia luas. Di banyak tempat, stoknya terbatas. Tidak semua fasilitas kesehatan memilikinya. Tidak semua serum cocok untuk semua jenis ular. Ular yang berada endemis di Indonesia bagian barat berbeda dengan ular yang endemis berada di Indonesia bagian timur. Karena itu, serum harus digunakan pada orang yang memang membutuhkannya.
Hal lain yang juga perlu dipahami adalah bahwa ular berbisa tidak selalu menyuntikkan bisa setiap kali menggigit. Ular tidak menggigit manusia karena ingin makan manusia. Dalam banyak kasus, ular menggigit karena merasa terancam, terinjak, terpegang, atau terpojok. Bisa ular adalah āmodal hidupā bagi ular. Dengan bisa itu ular berburu dan mempertahankan diri. Karena itu, dalam situasi tertentu ular dapat menggigit tanpa mengeluarkan bisa, atau hanya mengeluarkan sedikit bisa. Inilah yang membuat dry bite bisa terjadi. Panduan WHO tentang manajemen gigitan ular juga menyebut bahwa pada pasien dengan dugaan gigitan ular, bisa saja hanya terdapat bekas tusukan akibat dry bite dari ular berbisa, gigitan ular tidak berbisa, atau luka lain yang menyerupai gigitan.
Tetapi jangan salah paham. Penjelasan ini bukan berarti korban boleh santai di rumah. Justru sebaliknya. Karena masyarakat tidak bisa membedakan dengan pasti apakah itu dry bite atau envenomasi awal, semua gigitan ular harus tetap dibawa ke fasilitas kesehatan. Masyarakat awam tidak bisa hanya melihat luka lalu menyimpulkan aman. Bahkan tenaga kesehatan pun sering perlu waktu observasi untuk memastikan apakah gejala akan berkembang atau tidak.
Di sinilah pesan utamanya harus dibuat jelas. Digigit ular belum tentu perlu serum antibisa. Tetapi digigit ular selalu perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan. Dua kalimat ini harus berjalan bersama. Kalau hanya mengatakan ātidak semua gigitan perlu serumā, masyarakat bisa salah menangkap dan menganggap gigitan ular boleh ditunggu di rumah. Itu berbahaya. Sebaliknya, kalau hanya mengatakan āsemua gigitan harus diberi serumā, masyarakat akan salah paham tentang cara kerja penanganan medis dan bisa menuntut terapi yang belum tentu tepat.
Dalam bahasa sederhana, pesan yang lebih aman adalah begini: kalau digigit ular, jangan sibuk mencari serum dulu. Sibuklah membawa korban ke fasilitas kesehatan secepat mungkin. Nanti dokter yang menilai apakah serum diperlukan atau tidak.
Pertolongan pertama di tempat kejadian juga harus benar. Ini penting karena banyak pertolongan pertama yang diwariskan turun-temurun justru keliru. Kalau seseorang digigit ular, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjauhkan korban dari lokasi gigitan. Jangan mengejar ularnya. Jangan mencoba menghisap di tempat gigitan dengan mulut. Jangan mencoba menangkapnya. Jangan memukulnya jika itu membuat orang lain ikut berisiko. Bila aman, foto ular dari jarak jauh boleh membantu. Tetapi keselamatan korban dan penolong tetap nomor satu.
Setelah itu, tenangkan korban. Ini terdengar sederhana, tetapi sangat penting. Orang yang panik akan lebih banyak bergerak. Napasnya lebih cepat. Denyut jantungnya meningkat. Gerakan tubuh yang berlebihan dapat membantu penyebaran bisa lebih cepat. Karena itu, korban perlu dibuat tenang, dibaringkan atau didudukkan dengan nyaman, lalu anggota tubuh yang tergigit diusahakan tidak banyak bergerak.
Bila yang tergigit adalah tangan atau kaki, lepaskan benda-benda yang ketat. Cincin, gelang, jam tangan, sepatu, atau kaus kaki ketat sebaiknya dilepas. Ini karena pembengkakan bisa muncul kemudian. WHO juga menganjurkan agar benda-benda ketat di sekitar area gigitan dilepaskan karena dapat membahayakan bila pembengkakan terjadi.
Anggota tubuh yang tergigit sebaiknya diimobilisasi. Dalam bahasa sederhana, dibuat tidak banyak bergerak. Kalau ada kain, papan, bambu kecil, atau benda lain yang bisa menjadi bidai sederhana, dapat digunakan untuk membantu menjaga posisi tangan atau kaki. Tujuannya bukan mengikat kuat-kuat, tetapi mengurangi gerakan. Setelah itu, korban segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Yang justru tidak boleh dilakukan adalah menyayat luka. Dulu, akibat kebanyakan nonton Film Rambo, banyak orang percaya bahwa luka harus disayat agar bisa keluar. Ini keliru. Menyayat luka justru bisa memperparah kerusakan jaringan, menyebabkan perdarahan, meningkatkan risiko infeksi, dan tidak terbukti mengeluarkan bisa secara efektif. Jangan pula mengisap bisa dengan mulut. Selain tidak efektif, cara ini bisa menambah infeksi pada luka dan membahayakan penolong bila ada luka di mulut.
Jangan memasang torniket ketat. Ini juga salah satu kebiasaan yang masih sering dilakukan. Orang mengikat kuat bagian atas luka dengan harapan bisa tidak menyebar. Masalahnya, ikatan yang terlalu ketat dapat mengganggu aliran darah, merusak jaringan, dan memperburuk kondisi anggota tubuh. CDC secara jelas menganjurkan agar pada gigitan ular, korban tidak diberi torniket, tidak disayat lukanya, tidak diisap bisanya, tidak diberi es, dan tidak diberi terapi tradisional yang dapat menunda penanganan medis.
Jangan pula memberi es, membakar luka, menyetrum luka, mengoleskan bahan kimia, menempelkan ramuan, atau memijat area gigitan. Sebagian tindakan seperti ini mungkin dilakukan dengan niat baik, tetapi niat baik tidak selalu menghasilkan tindakan yang benar. Dalam banyak kasus, tindakan-tindakan tersebut membuat luka makin rusak dan membuat pasien terlambat sampai ke rumah sakit.
Keterlambatan inilah yang sering menjadi masalah. Banyak korban gigitan ular tidak langsung datang ke fasilitas kesehatan karena merasa belum ada gejala. Ada juga yang lebih dulu pergi ke dukunl, mencoba ramuan, atau menunggu apakah bengkaknya akan hilang. Padahal beberapa jenis bisa ular dapat bekerja perlahan. Pada awalnya korban mungkin hanya merasa nyeri ringan. Beberapa jam kemudian, bengkak bertambah. Pada kasus lain, korban awalnya masih bisa berjalan, lalu mulai merasa lemah, kelopak mata turun, bicara sulit, dan napas mulai berat.

Kalau sudah sampai pada gangguan napas, situasinya jauh lebih serius. Pada jenis ular dengan bisa neurotoksik seperti ular King Cobra, kematian dapat terjadi bukan karena luka gigitan terlihat besar, tetapi karena otot pernapasan melemah. Dalam kondisi seperti ini, pasien mungkin memerlukan bantuan napas, oksigen, pemantauan ketat, dan serum antibisa bila sesuai indikasi. Jadi, rumah sakit bukan hanya tempat mendapatkan serum. Rumah sakit adalah tempat memantau dan menangani komplikasi yang bisa muncul akibat gigitan ular.
Kita juga perlu mengetahui bahwa bekas gigitan tidak selalu menentukan berat ringannya kondisi. Ada gigitan yang tampak kecil, tetapi bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah. Ada luka yang tampak tidak terlalu mengerikan, tetapi beberapa jam kemudian muncul gejala saraf. Sebaliknya, ada luka yang tampak menakutkan karena berdarah atau nyeri, tetapi ternyata tidak berkembang menjadi envenomasi berat. Karena itulah pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan.
Di fasilitas kesehatan, dokter akan menilai korban secara menyeluruh. Bukan hanya melihat bekas gigitan. Dokter akan bertanya kapan digigit, di mana lokasinya, seperti apa ularnya jika terlihat, apa yang terjadi setelah gigitan, apakah nyeri bertambah, apakah bengkak meluas, apakah ada muntah, pusing, lemas, sesak, gangguan bicara, atau tanda perdarahan. Dokter juga akan memeriksa tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, kesadaran, kondisi luka, luas pembengkakan, dan tanda-tanda saraf. Bila perlu, pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat apakah ada gangguan pembekuan, penurunan trombosit, gangguan ginjal, atau tanda kerusakan otot.

Dari penilaian itulah keputusan dibuat. Bila tidak ada tanda envenomasi, pasien dapat diobservasi. Bila muncul tanda envenomasi, serum antibisa diberikan sesuai indikasi. Bila gejalanya berat, pasien mungkin perlu dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. Keputusan ini harus dinamis. Artinya, keputusan pada jam pertama bisa berubah pada jam berikutnya bila kondisi pasien berubah.
Karena itu, keluarga korban sebaiknya bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Sampaikan informasi sejelas mungkin. Jangan menyembunyikan tindakan yang sudah dilakukan di rumah. Kalau luka sempat disayat, diikat, diberi ramuan, atau dihisap, katakan saja. Informasi itu penting agar tenaga kesehatan bisa menilai risiko infeksi, kerusakan jaringan, atau komplikasi lain. Jangan takut disalahkan. Dalam keadaan darurat, yang terpenting adalah keselamatan korban.
Keluarga juga perlu membantu memantau perubahan. Bila bengkak bertambah, nyeri makin hebat, korban mulai mengantuk, bicara berubah, sulit membuka mata, sulit menelan, muntah, perdarahan, atau napas terasa berat, segera sampaikan kepada petugas. Gejala-gejala ini dapat menjadi tanda bahwa bisa ular mulai bekerja lebih luas di tubuh.
Penting juga untuk tidak menjadikan serum antibisa sebagai ukuran tunggal apakah pasien ditangani dengan baik atau tidak. Ada pasien yang memang tidak perlu serum. Ada pasien yang perlu serum segera. Ada pasien yang perlu dirujuk karena fasilitas awal tidak cukup lengkap. Pelayanan yang benar bukan berarti semua korban diberi serum. Pelayanan yang benar adalah korban dinilai dengan baik, dipantau dengan benar, dan diberi serum bila memang ada indikasi.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga perlu berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami. Jangan hanya mengatakan ābelum ada indikasi antivenomā kepada keluarga yang sedang panik. Kalimat itu benar, tetapi mungkin tidak menenangkan. Akan lebih baik bila dijelaskan, āSaat ini belum terlihat tanda bahwa bisa ular sudah menyebar atau menyebabkan gangguan serius. Karena serum antibisa juga punya risiko, kita pantau dulu dengan ketat. Kalau muncul tanda tertentu, serum akan diberikan.ā Penjelasan seperti ini membuat keluarga merasa pasien tetap dijaga, bukan dibiarkan.

Edukasi seperti ini penting di Indonesia. Banyak masyarakat hidup berdampingan dengan lingkungan yang memungkinkan ular muncul. Sawah, kebun, semak, tumpukan batu, gudang, kandang ternak, selokan, dan pekarangan rumah bisa menjadi tempat ular bersembunyi. Ular juga bisa masuk ke rumah saat mencari mangsa seperti tikus. Karena itu, pencegahan tetap perlu dilakukan. Rumah dan halaman perlu dijaga agar tidak menjadi tempat persembunyian ular. Tumpukan barang yang tidak terpakai sebaiknya dirapikan. Lubang atau celah yang memungkinkan ular masuk perlu ditutup. Saat berjalan malam, gunakan lampu jika penerangan kurang memadai. Saat bekerja di kebun atau sawah, gunakan alas kaki dan, bila perlu sarung tangan.
Namun pencegahan tidak akan pernah menurunkan risiko menjadi nol. Selalu ada kemungkinan seseorang tergigit. Maka pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan setelah gigitan menjadi sangat penting. Pengetahuan ini harus sederhana, mudah diingat, dan tidak membuat orang bingung. Kalau digigit ular, jangan panik. Jauhkan korban dari ular. Kurangi gerakan. Lepaskan benda ketat. Jangan sayat luka. Jangan hisap bisa. Jangan pasang ikatan ketat. Jangan beri es atau ramuan. Segera bawa ke fasilitas kesehatan. Kalau bisa memotret ular dari jarak aman, silakan. Kalau tidak bisa, jangan dipaksakan.
Dan yang paling penting, jangan menuntut serum antibisa hanya karena ada gigitan. Tetapi juga jangan menolak ke rumah sakit hanya karena korban masih tampak baik. Serum antibisa memang tidak selalu diperlukan, tetapi pemeriksaan medis selalu diperlukan.
Kita perlu mengubah cara berpikir masyarakat. Selama ini pesan yang beredar sering terlalu sederhana: digigit ular harus cari serum. Padahal pesan yang lebih tepat adalah: digigit ular harus segera ke fasilitas kesehatan, lalu tenaga kesehatan akan menentukan apakah serum diperlukan. Perbedaannya kecil, tetapi dampaknya besar. Pesan pertama membuat orang fokus pada obat. Pesan kedua membuat orang fokus pada penanganan yang benar.
Dalam keadaan darurat, pengetahuan yang benar bisa menyelamatkan nyawa. Bukan karena masyarakat harus menjadi dokter, tetapi karena masyarakat perlu tahu langkah pertama yang tepat. Gigitan ular bukan saatnya mencoba-coba cara lama. Bukan saatnya membuktikan ramuan. Bukan saatnya menunggu keberuntungan. Gigitan ular adalah keadaan darurat medis yang perlu ditangani dengan tenang, cepat, dan benar.
Jadi, bila suatu hari Anda melihat seseorang digigit ular, ingatlah pesan sederhana ini. Jangan panik. Jangan lukai lagi tubuh korban dengan sayatan, ikatan ketat, atau tindakan yang tidak perlu. Jangan buang waktu. Bawa korban ke fasilitas kesehatan. Di sana, dokter akan menilai apakah terjadi envenomasi dan apakah serum antibisa memang diperlukan.
Serum antibisa adalah obat penting. Pada orang yang tepat, di waktu yang tepat, serum ini dapat menyelamatkan nyawa. Tetapi serum antibisa bukan jawaban untuk semua gigitan ular. Jawaban pertama yang paling penting adalah pertolongan yang benar dan akses cepat ke fasilitas kesehatan.